Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Disekap Empat Hari, Siswi MTs ini Lalu Diperkosa

Kategori Dunia: Nasional

Powered by: id.neuvoo.com

Pemerkosaan Rame-rame Siswi MTs. Seorang siswi madrasah tsanawiyah di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, diculik dan diperkosa oleh sejumlah orang. Siswi 15 tahun itu kini mengalami trauma berat dan dirawat di rumah sakit jiwa di Padang. “Korban disekap selama empat hari dan mengalami kekerasan fisik dan psikis, serta diperkosa oleh beberapa orang,” ujar anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPS) Sumatera Barat, Nora Fitri, Minggu, 20 April 2014.

Menurut pemeriksaan psikiater di RSJ, kata Nora, korban masih sensitif terhadap kejadian yang baru saja menimpanya. Saat mendengar nama lokasi peristiwa itu ataupun saat melihat pria muda, korban mengamuk dan langsung pingsan.

Peristiwa memilukan itu berawal saat korban akan pergi belajar kelompok ke rumah temannya pada 18 Maret 2014. Di tengah perjalanan, ada seorang lelaki yang menawarkan diri untuk mengantar. Korban menolak tawaran itu karena tak mengenal pelaku dan jarak tempat yang dituju sudah dekat. Namun pelaku memaksa.

Siswi kelas IX ini lalu dibawa ke sebuah bukit yang belum pernah dia lihat. Selama dua hari, korban dipindahkan ke beberapa rumah di sekitar bukit, dan baru dua hari terakhir di bawa ke kos-kosan. “Menurut pengakuan korban, suasana di kos-kosan itu ramai,” ujar Nora. Menurut dia, keberadaan korban berhasil dideteksi setelah ia menelepon orang tuanya dari kos-kosan tersebut sambil berteriak. “Lalu, telepon itu terputus karena dicegah pelaku.”

Mendengar teriakan anaknya, orang tua korban bersama masyarakat setempat menyusul ke sekolah. Karena tak ditemukan, orang tua korban kemudian melapor ke Kepolisian Sektor Guguk. Berdasarkan informasi warga, korban diketahui berada di sebuah kos-kosan di Danguang-Danguan.

Pada Sabtu, 22 Maret 2014, polisi menjemput korban di rumah kos itu dan membawanya ke Polsek Guguk karena orang tuanya sudah menunggu di sana. “Saat tiba di markas Polsek Guguk, korban langsung memeluk orang tuanya dan bilang kalau dia diperkosa. Setelah itu, korban langsung pingsan,” ujar Nora.

Namun polisi justru membawa korban dan orang tuanya ke sebuah perbukitan dengan alasan untuk menenangkan jiwanya. Di perbukitan itu korban bersama orang tuanya berdiam diri selama dua hari. “Seharusnya korban diberi pengobatan, tidak malah dibawa ke perbukitan,” tuturnya. Setelah dijemput pihak sekolah, korban baru dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. “Setelah diperiksa, diketahui korban mengalami luka-luka dan memar.”

Karena mengalami trauma berat, korban dibawa ke RSJ pada 8 April 2014 untuk mendapatkan perawatan intensif. “Di sanalah korban mulai terbuka, meskipun ada beberapa yang belum bisa dijawabnya karena masih trauma dan sering pingsan,” katanya.

Menurut Nora, korban hanya sepekan di RSJ. Sebab, korban mengaku ingin kembali sekolah dan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. “Karena banyak pertimbangan, dokter mempersilakan korban kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan,” ujarnya.

Saat ini proses hukum sedang berjalan dan pelaku sudah ditahan. Namun, berdasarkan informasi warga di sekitar TKP, seminggu setelah ditemukannya korban, polisi membersihkan tempat penyekapan dan membakar beberapa barang bukti. “Sepertinya ada yang disembunyikan oleh pihak kepolisian untuk melindungi pelaku,” tutur Nora.

Kepala Kepolisian Resor Limapuluh Kota Ajun Komisaris Besar Polisi Cucuk Trihono membantah adanya pemusnahan barang bukti. “Barang bukti berupa pakaian, kasur, dan sepeda motor ada di sini (Polres). Tak benar dimusnahkan,” ujarnya kepada Tempo.

Menurut Cucuk, pihaknya mendapatkan informasi ada anak yang tidak pulang pada 18 Maret 2014. Lalu, dilakukan pencarian hingga ditemukan pada Sabtu, 22 April 2014, di sebuah rumah kos. Polres, kata dia, sudah menetapkan satu orang tersangka bernisian AR, 21 tahun. Tersangka menyerahkan diri diantar orang tuanya ke Polsek Guguk pada Senin, 24 Maret 2014. “Saat ini proses hukumnya masih berjalan. Laporan yang kita terima, ini kasus melarikan anak di bawah umur, bukan pemerkosaan,” ujarnya.

loading...

Bacaan Terkait: