Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Film 99 Cahaya di Langit Eropa (Review)

Kategori Dunia: Film
[neuvoo_jobroll co=id lo=Jakarta kw=Marketing size=20]

Sinopsis Film 99 Cahaya di Langit Eropa. Keputusan Hanum (Acha Septriasa) menetap di Wina, Austria, adalah hal yang mutlak. Ia tak bisa meninggalkan Rangga (Abimana Aryasatya), sang suami yang mendapatkan beasiswa di salah satu universitas, hidup sendirian di negeri Mozart tersebut.

Awalnya memang ia mengisi hari-hari dengan berkeliling Wina, namun ketika kegiatan itu menjadi membosankan, keinginan untuk pulang ke Indonesia menjadi semakin besar.

Namun rasa rindu terhadap tanah air itu lenyap ketika Hanum bertemu dengan Fatma (Raline Shah), wanita asal Turki beranak satu. Berawal dari sama-sama mengikuti kelas bahasa Jerman, keduanya menjadi akrab lantaran sering menghabiskan waktu mengenal Islam lewat tempat-tempat eksotik di Wina.

[neuvoo_jobroll]

Bersama Fatma, Hanum seperti disadarkan akan sesuatu. Terutama bagaimana hidup sebagai agen Islam di negeri orang. Masalah bermula ketika Fatma tiba-tiba hilang begitu ia pulang dari Paris. Ke manakah Fatma?

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA adalah film yang diadaptasi berdasar buku best seller karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Drama produksi Maxima Pictures ini disutradarai oleh Guntur Soeharjanto menggunakan naskah olahan Alim Sudio bersama Hanum dan Rangga.

Sebagai tontonan adaptasi bernuansa Islami, film ini berhasil membawa ruh buku ke dalam filmnya. Sedikit preachy di beberapa bagian, namun mampu membuai sasaran penonton yang dituju dengan mulus. Visualisasi yang ditampilkan begitu cantik bersinergi dengan napas cerita yang memang menyorot tempat-tempat menawan di Wina dan Paris.

Tak hanya berbicara lewat gambar, jajaran pemain mampu berakting dengan baik. Dari Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Dewi Sandra sampai Raline Shah sebagai Fatma. Tak hanya itu, kehadiran Alex Abbad memerankan Khan, muslim fanatik asal India serta Steffan pria agnostik yang diplot pada Nino Fernandez, berhasil memberi highlite tersendiri.

Kekurangan film yang paling tampak adalah pada urusan naskah. Sebagai bagian pertama dari dwilogi yang direncanakan, ceritanya kurang mengikat emosi. Namun tetap saja, ada hal menarik yang akan di dapat ketika keluar dari bioskop. Selain ingin berjalan-jalan ke luar negeri, muncul keinginan untuk mengenal Islam lebih dekat.

loading...

Bacaan Terkait: