Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Inilah Daftar Daerah yang Menolak Keberadaan Front Pembela Islam (FPI)

Kategori Dunia: Nasional

Daftar Daerah yang Menolak Keberadaan FPI (Front Pembela Islam). Rencana deklarasi organisasi keagamaan Front Pembela Islam (FPI) di Tulungagung, Jawa Timur, kemarin resmi ditolak oleh pemerintah daerah setempat. Melalui pembahasan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), keberadaan FPI di Tulungagung tidak diakui.

Pernyataan sikap secara terbuka penolakan FPI itu disampaikan terbuka oleh Bupati Tulungagung Syahri Mulyo bersamaan dengan acara pemusnahan ribuan barang bukti minuman keras, narkoba dan jamu ilegal di halaman Mapolres Tulungagung.

“Setelah berdiskusi dengan jajaran Forpimda, kami nyatakan tidak mengakui keberadaan FPI di Tulungagung,” tegas Bupati Syahri Mulyo, seperti dilansir dari laman Merdeka. Didampingi Kapolres AKBP Bastoni Purnama, Kajari Dawin Noor, Kepala Pengadilan Negeri Tulungagung Tajuddin, serta Dandim 0807/Tulungagung Letkol Infantri Gunawan Permadi, Bupati menjelaskan sejumlah pertimbangan keputusan tersebut.

--

Sebenarnya bukan cuma Tulungagung yang pernah mewacanakan menolak keberadaan FPI di daerah mereka. Sebelumnya, di beberapa daerah juga sempat ada gerakan penolakan dari warga. Salah satu yang pernah ramai adalah penolakan warga Palangkaraya di Kalimantan Tengah.

Berikut ini beberapa daerah yang warganya sempat menolak keberadaan FPI di daerah mereka, seperti dilansir dari laman Merdeka :

FPI ditolak kelompok adat Dayak di Palangkaraya

Pada pertengahan Februari tahun lalu, beberapa tokoh Front Pembela Islam yang melawat ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ditolak oleh kelompok adat Dayak di Bandara Tjilik Riwut. Bahkan, rombongan ormas Islam itu dilarang turun dari pesawat dan diminta segera meninggalkan lokasi.

Padahal, alasan kedatangan rombongan FPI itu buat membuka cabang di Kalimantan Tengah. Unjuk rasa penolakan kedatangan tokoh FPI ini juga terjadi bundaran besar Palangkaraya. Ratusan pemuda Dayak mendeklarasikan berdirinya Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Tengah.

Turut hadir dalam unjuk rasa di bundaran besar ini antara lain Wakil Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) yang juga Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah, Siun Jarias dan Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, Lukas Tingkes.

Massa baru berhasil ditenangkan oleh petugas kepolisian usai ditemui Gubernur Kalimantan Tengah, Agusrin Teras Narang, pada sore hari.

FPI juga dilarang di Tulungagung

Sebelum Formida yang dipimpin Bupati Tulungagung Syahri Mulyo secara resmi melarang Front Pembela Islam (FPI), beberapa sebelumnya demonstrasi warga dari berbagai elemen di daerah itu juga digelar untuk menolak rencana deklarasi FPI.

Misalnya ratusan warga Tulungagung yang tergabung dalam komunitas warung kopi dan tempat hiburan berdemonstrasi menentang pendirian Front Pembela Islam (FPI) di daerahnya, Selasa (28/10).

Seperti yang dilansir oleh Antara, massa yang berjumlah sekitar 250 orang itu tiba di depan gedung Pemkab Tulungagung, Jalan Ahmad Yani Barat, sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung berorasi penolakan terhadap FPI.

Massa yang hadir datang dengan membawa spanduk, bendera, serta “slayer” berisi simbol serta tulisan penentangan terhadap organisasi sosial keagamaan yang dinilai kerap membikin gerakan kekerasan di sejumlah wilayah Indonesia tersebut.

“Tidak ada tempat untuk FPI di Tulungagung. Batalkan (deklarasi) atau kita akan lawan,” teriak Koordinator Aliansi Masyarakat Tulungagung Cinta Damai (AMTCD), Raga Waluyo dalam orasinya.

Warga Pontianak Larang Keberadaan FPI

Di Kalimantan, FPI bukan hanya dilarang oleh warga Palangkaraya. Masyarakat Pontianak juga melakukan aksi unjuk rasa menolak keberadaan FPI. Menanggapi peristiwa itu, Kapolri yang masih dijabat Jenderal Timur Pradopo meminta masyarakat menghentikan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum.

“Kapolda beserta instansi terkait dan pemerintah daerah terus mengajak masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal melanggar hukum dan itu yang kita lakukan” kata Timur usai menghadiri prosesi pemakaman mantan Kapolri Dibyo Widodo di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Jumat (16/3).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kondisi Pontianak sendiri sempat memanas pada Rabu kemarin (14/3) ketika warga Dayak melakukan unjuk rasa menolak keberadaan FPI di daerah mereka. Menindaklanjuti permasalahan tersebut, pihak kepolisian menggelar mediasi siang tadi untuk mendamaikan kedua kubu yang saling tegang.

Situasi semakin mencekam menyusul beredarnya pesan-pesan melalui SMS dan BBM. Namun, Mabes Polri menegaskan bahwa situasi di Pontianak sudah berangsur kondusif. Kepolisian berharap semua pihak menahan diri dan tidak terprovokasi.

Warga Kendal minta FPI dibubarkan

Puluhan warga Kendal, Jawa Tengah, juga pernah melakukan aksi damai menolak kekerasan yang dilakukan FPI. Puluhan warga ini sengaja tidak melakukan orasi dan hanya memasang spanduk yang berisi tuntutan pembubaran FPI. Warga menolak segala bentuk kekerasan mengatasnamakan agama.

Puluhan warga yang mengatasnamakan solidaritas masyarakat Kendal untuk korban kekerasan FPI ini menggelar aksi di alun-alun Kendal. Dengan membentangkan spanduk tuntutan pembubaran FPI, massa juga mengutuk keras bentrokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Dalam aksi damai ini warga sengaja tidak melakukan orasi dan hanya membisu sebagai bentuk keprihatinan dan berduka jatuhnya korban. Puluhan warga ini hanya membentangkan spanduk berisi tuntutan pembubaran FPI dan menentang tindakan kekerasan yang sering dilakukan FPI.

loading...

Bacaan Terkait: