Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Inilah Fakta Mengejutkan Terbongkarnya Kasus Vila berisi Macan

Kategori Dunia: Nasional

Macam di Villa Bogor – Fakta Mengejutkan Terbongkarnya Kasus Vila berisi Macan. Peristiwa pembunuhan Neneng di vila yang diketahui milik Mr J warga Jakarta tersebut membuat kaget warga sekitar. Korban dibunuh karena menolak berhubungan badan. Neneng dibunuh dengan cara dianiaya, lalu jasad korban dikubur di pekarangan di dalam vila.

Namun setelah kasus ini terkuak muncul kasus baru yang tidak kalah menggegerkan. Di vila yang selama ini dijaga oleh Slamet tersebut polisi menemukan satwa liar yang dilindungi.

Di dalam vila seluas 800 meter persegi tersimpan seekor Harimau Sumatera, Liger (lion dan tiger) peranakan singa dan harimau, empat ekor rusa tutul, tiga ekor merak, dua ekor siamang dan satu ekor Owa Jawa.

--

Bagaimana kasus tersebut bermula? Berikut lima fakta mencengangkan terbongkarnya kasus vila yang menyimpan macan tersebut:

Berawal dari kencan berujung pembunuhan

Kasus penemuan hewan dilindungi di vila Kampung Bojong Honje RT 4/RW 3, Desa Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat bermula dari peristiwa pembunuhan. Peristiwa itu bermula saat korban Neneng dan SP berkencan di vila tempat SP bekerja.

Antara Neneng dan SP baru dikenalkan oleh rekan SP, sesama penjaga vila, keduanya lalu dekat. Sampai akhirnya Neneng datang menemui SP di vila tempat SP bekerja, Neneng menginap di vila tersebut. Lalu pada malam itu keduanya melakukan hubungan badan.

Kamis (24/10) dini hari, SP meminta untuk melakukan hubungan badan lagi, namun Neneng menolak. Terjadi percekcokan antara keduanya, hingga berujung pada perkelahian.

“Pelaku juga menyabet bagian tubuh lainnya sebanyak dua kali, hingga korban tersungkur dengan empat luka sabetan pisau lipat,” kata Kasatreskrim Polres Bogor, AKP Didik Purwanto.

Pelaku menyerahkan diri

Untuk memastikan korban tewas, SP mengambil stang motor Vespa dan memukul kepala korban hingga berdarah, dan korban meninggal dunia di tempat kejadian. Pelaku lalu mengubur jasad korban di pekarangan depan vila di bawah pohon. Pelaku juga membersihkan darah serta sisa pertengkaran di ruang kejadian untuk menghilangkan bukti.

“Usai mengubur jasad korban pelaku duduk di depan vila, seorang temanya Umai melihat dan menegur pelaku. Kepada temannya pelaku curhat dan mengaku baru saja membunuh seseorang dan menguburkan jasadnya di bawah pohon,” ujar Kasatreskrim Polres Bogor, AKP Didik Purwanto.

Pelaku lalu meminta Umai untuk mengantarkannya ke kantor polisi dan menyerahkan diri atas perbuatannya.

Pelaku ketakutan dihantui korban

Usai menguburkan korban, Slamet duduk termenung di bawah pohon hingga pukul 16.00 WIB. Pelaku menceritakan kejadian itu kepada sesama penjaga vila, Umai (40) karena Slamet takut dihantui arwah Neneng.

“Saya merasa ketakutan karena bayangan korban terus menampakkan diri sambil matanya melotot, dan terus menghantui saya,” kata Slamet kepada Umai.

Atas hal itulah Slamet lalu menyerahkan diri ke kantor polisi ditemani Umai. Polisi pun langsung memproses dan mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengambil jenazah Neneng.

Polisi temukan macan saat akan olah TKP

Saat mendatangi vila untuk melihat lokasi pembunuhan dan kuburan Neneng, polisi di buat kaget. Di vila yang disebut milik pengusaha asal Jakarta berinisial J tersebut polisi menemukan satwa liar yang dilindungi.

Berdasarkan keterangan pelaku bahwa dirinya ditugasi untuk merawat vila sekaligus satwa liar tersebut. Di dalam vila seluas 800 meter persegi tersimpan seekor Harimau Sumatera, Liger (lion dan tiger) peranakan singa dan harimau, empat ekor rusa tutul, tiga ekor merak, dua ekor siamang dan satu ekor Owa Jawa.

Kasus ini segera membuat geger warga sekitar. Polisi pun sedang memproses izin dari kepemilikan satwa dilindungi itu. Meski demikian polisi tidak berani membuka identitas J, si pemilik vila.

Kepemilikan macan tak berizin

Polhut BKSDA wilayah Bogor, Jawa Barat, Nano Winarno, menyebutkan, satwa yang terdapat di vila tersebut adalah satwa liar yang dilindungi. Menurutnya berdasarkan aturan yang berlaku izin pemeliharaan harimau tidak lagi dikeluarkan kecuali untuk lembaga konservasi.

“Ini semua merupakan satwa liar yang dilindungi, sehingga keberadaannya di sini ilegal dan akan kami sita,” kata Nano.

Nano menyebutkan, dari hasil penyelidikan awal petugas, tidak ditemukan adanya dokumen resmi kepemilikan hewan tersebut, sehingga secara aturan hukum yang berlaku yakni Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 tentang konservasi dan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1989 seseorang yang memelihara satwa liar yang dilindungi akan dikenai sanksi.

“Sanksi kurungan bagi yang kedapatan memelihara dan memperdagangkan lima tahun penjara. Tapi ini masih kita dalami lagi siapa pemiliknya dan dari mana diperolehnya,” kata Nano.

Nano menambahkan, untuk sementara waktu satwa masih didiamkan di vila seluas 800 meter persegi sambil menunggu petugas penangkaran untuk membawa satwa-satwa tersebut ke penangkaran satwa liar di wilayah Bogor dan Sukabumi.

loading...

Bacaan Terkait: