Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Inilah Ritual Kematian yang Unik di Dunia

Kategori Dunia: Dunia Religi

Ritual Kematian yang Aneh & Unik di Dunia. Setiap daerah memiliki budaya dan kepercayaan yang dijunjung dan juga menjadi identitas kedaerahan bagi masyarakat yang hidup di daerah tersebut.

Ritual kematian juga menjadi salah satu tradisi yang dijalankan oleh sebagian orang di berbagai belahan dunia untuk menghargai orang yang sudah wafat atau ritual yang sengaja dijalankan untuk menyambut datangnya kematian orang itu sendiri. Nah, berikut adalah lima ritual kematian/pemakaman terunik dari seluruh dunia.

Pemakaman langit di Mongolia dan Tibet

Para umat Buddha Vajrayana di Mongolia dan Tibet percaya bahwa ketika seseorang meninggal, jiwanya akan bergerak, sementara tubuhnya hanya menjadi sebuah bejana kosong. Untuk mengembalikannya ke bumi, tubuh jasad itu kemudian dipotong-potong dan ditempatkan di sebuah puncak gunung, yang sering didatangi oleh kawanan burung pemakan bangkai.

Praktik ini telah dilakukan selama ribuan tahun di Mongolia dan Tibet, dan menurut laporan terbaru, sekitar 80 persen dari orang Tibet masih menjalani ritual kematian tersebut. Selain itu, tanah di daerah Tibet dan Qinghai terbilang terlalu keras dan berbatu untuk digali, dan karena kelangkaan bahan bakar dan kayu pula akhirnya pemakaman langit dirasa lebih praktis daripada praktik kremasi tradisional.

Memumifikasi diri sendiri di Yamagata

ersebar di seluruh Utara Jepang, di sekitar Prefektur Yamagata, terdapat dua lusin mumi biarawan Jepang yang dikenal dengan sebutan Sokushinbutsu.

Sokushinbutsu melakukan sendiri mumifikasi mereka dengan teknik tertentu. Praktik ini pertama kali dirintis oleh seorang kepala biara bernama Kuukai lebih dari 1000 tahun yang lalu di kompleks candi Gunung Koya di prefektur Wakayama.

Kuukai adalah pendiri Shingon – sekte Budha – yang merupakan sekte yang muncul dengan ide pencerahan melalui hukuman fisik. Konon ratusan biksu, sebagaimana dilansir amusingplanet, telah mencoba praktik mumifikasi tersebut, tetapi hanya ada 16 dan 24 mumi yang berhasil ditemukan hingga kini.

Proses mumifikasi ini cukup rumit, dimulai dengan diet 1.000 hari. Selama masa itu, para biksu hanya akan makan makanan tertentu yang terdiri dari kacang-kacangan dan biji-bijian untuk melucuti semua lemak di tubuh mereka. Mereka kemudian hanya makan kulit dan akar selama seribu hari selanjutnya dan mulai minum teh beracun yang dibuat dari getah pohon Urushi, yang biasanya digunakan untuk pernis mangkuk.

Racun ini menyebabkan muntah dan hilangnya cairan tubuh dengan cepat, dan yang paling penting, itu membuat tubuh terlalu beracun untuk dimakan oleh belatung. Sampai pada tahap ini, seorang biarawan akan mulai memumifikasi tubuhnya sendiri dengan mengunci dirinya dalam kubur batu yang hampir tidak lebih besar dari? ukuran tubuhnya.

Di situ, dia akan bersemedi dalam posisi lotus dan tidak akan bergerak lagi. Untuk berkoneksi dengan dunia luar, terdapat sebuah tabung udara dan bel yang ditempatkan di kubur batu tersebut. Setiap hari, dia akan membunyikan lonceng itu untuk memberi tanda pada orang di luar bahwa dia masih hidup.

Ketika bel berhenti berdentang, tabung udara itu kemudian dicabut dan makam disegel. Setelah kuburan itu disegel, para biarawan lain akan membacakan bait suci selama 1.000 hari, dan membuka kubur itu untuk melihat apakah mumifikasi berhasil. Dan jika mumifikasi itu berhasil, sang biksu akan dianggap sebagai Buddha dan dimasukkan ke dalam kuil untuk dipertontonkan.

Ngaben di Bali

Ngaben atau biasa disebut upacara kremasi, adalah ritual pemakaman yang dilakukan di Bali untuk mengirim roh orang yang meninggal ke kehidupannya yang selanjutnya. Tubuh orang yang sudah meninggal akan diperlakukan seolah-olah dia sedang tidur, dan tidak ada air mata yang ditumpahkan selama prosesi berlangsung, karena almarhum hanya dianggap absen untuk sementara waktu dari dunia ini. Menurut kepercayaan umat Hindu, roh orang yang sudah meninggal akan kembali bereinkarnasi atau mencapai Moksa (bebas dari ikatan keduniawian termasuk reinkarnasi dan siklus kematian).

Penentuan hari ngaben sebelumnya akan dikonsultasikan dengan para pemangku adat. Pada hari H-nya, tubuh orang yang sudah meninggal akan ditempatkan di dalam sebuah peti mati dan kemudian dibawa ke tempat kremasi. Puncak dari ngaben adalah pembakaran peti mati yang berisi raga orang yang sudah wafat. Api dianggap dapat membebaskan roh dari tubuh kasarnya dan juga memungkinkan adanya reinkarnasi kembali.

Famadihana di Madagaskar

Famadihana adalah sebuah tradisi pemakaman yang dilakukan oleh orang Malagasi di Madagaskar. Uniknya, selama upacara pemakaman berlangsung, orang-orang Malagasi menghidupkan musik di sekitar pekuburan dan menari bersama mayat. Tradisi ini didasarkan pada keyakinan orang Malagasi bahwa roh-roh orang mati akhirnya akan bergabung dengan dunia para leluhur, setelah tulang-belulangnya terurai.

Di Madagaskar, famadihana menjadi ritual rutin yang biasanya dilakukan setiap tujuh tahun sekali, dan tradisi ini menjadi momen istimewa yang sangat ditunggu-tunggu, karena ini dapat mengumpulkan semua anggota keluarga yang terpisah. Praktik ini juga dianggap sebagai cara untuk menghormati orang yang sudah meninggal.

Sallekhana

Sallekhana atau juga disebut Santhara, adalah ritual keagamaan Jaina dharma yang digambarkan sebagai praktik bunuh diri yang dilakukan dengan berpuasa. Sebelum melakukan ritual ini, setiap individu diberikan waktu untuk merenungkan hidupnya. Sumpah sallekhana diambil ketika seseorang merasa bahwa selama hidupnya, dia telah berbuat baik kepada orang lain, tidak memiliki keinginan/ambisi, dan tidak ada tanggung jawab yang tersisa dalam hidupnya.

Seorang umat Jain juga diperbolehkan melakukan praktik ini jika dirinya menderita penyakit serius atau cacat. Tujuannya adalah untuk membersihkan karma lama dan mencegah terciptanya karma yang baru. Menurut laporan Press Trust of India, rata-rata ada 240 umat Jain yang berlatih sallekhana sampai menjemput ajal setiap tahun di India.

loading...

Bacaan Terkait: