Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Inilah Ruang Penyekapan 25 Buruh Pabrik Panci “Lebih Buruk daripada Penjara”

Kategori Dunia: Nasional

Powered by: id.neuvoo.com

25 Buruh Panci Disekap Diruangan 6×6. Berita penyekapan para buruh pabrik panci di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Sepatan, Kabupaten Tangerang kini menjadi buah bibir. Pasalnya, Yuki Irawan selaku bosnya telah menyekap 25 buruh selama berbulan-bulan. Penyekapan dan penyiksaan para buruh ini terbongkar setelah salah seorang buruh kabur.

Di ruangan 6 x 6 meter itulah, 25 buruh disekap selama berbulan-bulan tanpa mendapatkan hak-hak pekerjaannya. Dan berikut adalah informasi selengkapnya, seperti Dunia Baca dot Com lansir dari laman tempo

Anda pernah masuk sel penjara? Jika dibandingkan sel dengan jeruji besi, itu lebih manusiawi karena ada cahaya masuk dari kisi-kisi jeruji. Nah ini, ruangan tidur buruh panci berukuran 6 x 6 meter jauh lebih buruk dari sel penjara.

Pabrik panci dan alat dapur di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Sepatan, Kabupaten Tangerang menjadi bahan perbincangan karena bosnya, Yuki Irawan telah menyekap 25 buruh selama berbulan-bulan. Penyekapan dan penyiksaan para buruh ini terbongkar setelah salah seorang buruh kabur.

Tempo Ahad, 5 Mei 2013 masuk ke ruangan yang teramat kumuh ini. Belum sampai hitungan lima menit, dada ini sedikit sesak, udara segar tidak ada, hanya dua ventilasi kaca yang tidak bening. Pada dinding tembok catnya sudah mengelupas dan warna putihnya mengusam. Tak ada kasur, hanya hamparan tikar yang sudah koyak di sana-sini, itupun tidak menutup seluruh lantai semen.

Jika sudah masuk kamp, mereka baik buruh asal Lampung dan Cianjur tidak bisa bercerita ataupun saling mengeluh, ungkapan hati hanya dituliskan di dinding kusam, diantaranya, Tempo membaca; ‘hidup berperang mati dikenang’, ‘tetap berkawan-Lampung’

Siapa akan menyangka, termasuk warga sekitar bahwa di balik rumah gedong bertingkat dua berwarna krem itu terdapat kamp kamar sekaligus tempat penyiksaan buruh. (Lihat: 25 Buruh Panci Disekap, 3 Bulan Tidak Mandi)

Lokasi kamp itu menempel rumah gedong mewah, di bagian belakang. Tak ada fasilitas apa pun kecuali bangkai televisi 12 inci yang sudah tak bisa dinyalakan tombolnya. Debu tebal menyelimuti tv dan kipas yang teronggok rusak di pojok ruangan.

Sarang laba-laba memenuhi langit-langit ruangan. Bentangan kawat jemuran menyisakan beberapa potong pakaian kumal. (Baca juga: Kisah Buruh Pabrik Panci Kabur dari Sekapan Bos)

Lebih mengenaskan, di dekat kipas angin rusak, ada dua piring plastik menyisakan nasi busuk dan sebungkus garam. Buruh kemungkinan makan di kamar itu pula tanpa lauk dan jauh dari makanan bergizi.

Pada bangunan setinggi dua meter itu disekat menjadi tiga ruang. Kamp tidur dengan pintu kayu yang selalu digembok jika buruh sudah tidur di dalam. Untuk menuju kamp ini, ada ruangan berlantai becek dan kamar mandi dengan kloset sangat dekil. “Saya tidak mandi tiga bulan, tidak ganti baju dan gosok gigi,” kata Arifudin sehari sebelumnya ditemui Tempo di Kantor Polres di Tigaraksa.

Dari kamp menuju bengkel kerja tempat mencetak kenceng/wajan alumunium ini hanya sepelemparan batu. Tepat di samping rumah mewah itulah para buruh bekerja mencetak kenceng. Di ‘Pabrik’ panci yang merupakan bekas rumah Yuki itu Tempo menghitung ada tiga tungku besar dari tanah liat untuk membakar wajan/kenceng alumunium itu.

Kondisinya bisa disebut seperti tempat sampah besar; acak-acakan, bahan baku lembaran alumunium foil bertebaran, berkarung-karung bahan wajan yang teronggok di tempat itu.

Ada pula kayu dan limbah tripleks yang dijadikan bahan bakar. Di depan ‘pabrik’ hampir menutup pintu bertumpuk karung-karung berisi tanah liat. Selain kumuh, lokasi ini hampir tak disentuh warga.

Buruh hanya beraktivitas di dalam tidak ada yang keluar rumah. Marsudin, 50 tahun tetangga depan rumah Yuki mengatakan melihat buruh setiap pagi diangkut ke luar dengan kendaraan dan dipulangkan tengah malam. Selebihnya warga tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang dilakukan buruh.

Saat warga melihat buruh berpakaian compang-camping, mereka mengira itu hal biasa karena pekerjaan mereka bersentuhan dengan bahan limbah. “Saya kira mereka begitu (-pakaian rombeng) karena kerjanya begitu (-belepotan tanah dan bahan alumunium),”ujar Zainudin, warga lain.

Dengan warga Yuki tidak berinteraksi. Marsudin yang mengetahui jaman susahnya Yuki bahkan tak saling tegur, meski rumahnya persis berhadapan. (Baca juga: Bos Pabrik Panci Pernah Jadi Bandar Pilkades)

“Kami warga kecil, tidak mau berurusan dengan Yuki. Warga sudah resah dengan keberadaan pabrik ini karena limbahnya mencemari lingkungan. Tapi takut karena dia dibekingi aparat,”kata Marsudin. Cek info penyekapan sadis 25 buruh panci di Tangerang.

loading...

Bacaan Terkait: