Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Inilah Sepak Terjang Santoso, dari Angkat Senjata hingga Tewas di Tambarana

Kategori Dunia: Nasional

Sepak Terjang Santoso, dari Angkat Senjata hingga Tewas di Tambarana. Tim Satuan Tugas (Satgas) Tinombala berhasil mengendus keberadaan lima anggota kelompok Santoso. Mereka langsung melakukan penyergapan, dua di antaranya berhasil ditembak mati, sedang tiga sisanya berhasil melarikan diri ke arah barat.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian meyakini satu jenazah adalah Santoso, selain ciri-ciri fisik juga didasarkan pada hasil tes DNA. Sedangkan satu jenazah lainnya adalah Mochtar, sebelumnya Tito menyebut nama Basri.

Selain itu polisi juga melakukan kroscek ke teman-teman, mantan istri hingga tahanan terorisme untuk mengenali jasad Santoso. Petualangan Santoso berakhir di tangan anggota Kostrad di pegunungan Desa Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah.
Siapa sebenarnya Santoso hingga jadi buronan paling dicari aparat Indonesia?

Abu Wardah alias Santoso lahir di Tentena, Sulawesi Tengah pada 21 Agustus 1976. Dia merupakan pendiri sekaligus pemimpin Mujahiddin Indonesia Timur (MIT), barisan milisi bentukannya ini juga menyatakan diri berbaiat pada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sejumlah informasi menyebutkan Santoso pernah mengikuti pelatihan militer pada 2001, dia juga pernah terlibat konflik horizontal di Poso antara tahun 1998 hingga 2001. Banyak yang meyakini keputusannya mengangkat senjata tak lepas dari pengaruh Abu Bakar Baasyir.

Santoso pernah tertangkap polisi pada 2006 lalu, dia ditangkap atas kasus perampokan di Kota Poso dan menjalani hukuman penjara. Setelah keluar, ia sempat berhenti menjadi militan serta beralih menjadi pedagang parang, peralatan masak dan pakaian.

Perubahan itu sempat diakui oleh mantan Kapolri Jenderal (Purn) Badroddin Haiti. Dia mengaku mengenali Santoso sebagai penjual buku, dan sempat berbincang dengan Santoso. Karena belum terlibat aksi terorisme, polisi tak membekuknya.

“Mampir sebentar, sering ngobrol ke situ, nanti berangkat lagi ke sana. Ya kita komunikasi, enggak ada masalah. Dulu kan belum terlibat apa-apa, kita masih bebas saja,” kata Badrodin, seperti yang dilansir Antara, 9 Maret 2014 lalu.

Namun Santoso kembali menjadi buruan polisi pada 2007. Dia dianggap bertanggung jawab atas kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap tiga siswi SMK di Poso, disusul kasus pembunuhan terhadap sejumlah polisi yang dikuburkan dalam satu lubang.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai meyakini Santoso pernah dibaiat langsung oleh Abu Bakar Baasyir sebagai pimpinan MIT. Setelah itu, dia mulai memperkenalkan dirinya dengan membuat video dan menyebarkannya melalui jejaring sosial.

Perjalanan terornya bermula di tahun 2009, ketika Noordin M Top tertangkap pasca-peledakan bom Marriot dua. Kejadian itu membuat Jemaah Islamiah dan JAT lumpuh, hingga tersebar dalam kelompok-kelompok kecil seperti jamur.

Akhir 2009, tokoh-tokoh utama teroris itu yang dipenjara mulai dibebaskan, salah satunya Abu Bakar Baasyir, dan Mustofa dan yang lain-lain. Sedang di Filipina ada Dul Matin serta Umar Patek.

“Akhirnya mereka sepakat bagaimana mereunifikasi gerakan ini, artinya mengumpulkan dana segala macam dan di situ lah Abu Bakar Baasyir kena mendanai itu. Ada bukti hukumnya. Dia ada keterkaitan dengan pelatihan di Jantho Aceh, pelatihnya adalah Mustofa dan pendanaannya adalah Abu Bakar Baasyir dari berbagai sumber,” ungkapnya.

Santoso kembali ke Poso pada Maret 2010 bersama teman-temannya. Di sana, dia berniat membangun Poso sebagai pusat jihad di Indonesia. Sejak itu, dia mulai mencari senjata hingga menggalang dana untuk memperkuat kelompoknya. Bahkan, ia pernah memerintahkan anak buahnya untuk menggunakan cara apapun agar mendapatkan senjata.

Alhasil, polisi menjadi salah satu target utama. Mulai dari penyerbuan kantor polisi, dan membawa lari sejumlah senapan untuk berperang. Aksi terornya semakin menjadi pada 2011, mereka mulai melakukan perampokan di bank-bank nasional, menyerbu Polsek di Palu hingga membobol penjara.

Dalam mengumpulkan dana, kelompok Santoso terlibat dalam aksi kriminal pencurian. Aksi tersebut juga untuk membiayai hidup janda para pelaku teroris yang tewas dalam operasi sebelumnya. Sebanyak 15 persen hasil pencurian diberikan untuk para janda, sedangkan 85 persen untuk para pelaku. Polisi juga sempat mengaitkan kelompok ini dalam kasus penembakan polisi di Jakarta dan sekitarnya.

Tak mau teror terus berlanjut, polisi lantas meluncurkan operasi perburuan pertama dan menerjunkan lebih dari 3.000 petugas ke sana. Operasi ini dinamakan Camar Maleo, di mana tim pemburu terdiri dari anggota Brimob dan TNI. Meski terus diperpanjang sampai empat kali, operasi ini belum juga menuai hasil. Namun, beberapa anak buah Santoso berhasil ditangkap atau ditembak mati.

loading...

Bacaan Terkait: