Islam dan Akulturasi Budaya Asing

Akulturasi Budaya Asing – Berbicara tentang pluralisme, kita sadar dan kita tahu indoensia ini merupakan sebuah Negara yang besar, yang masyarakatnya beraneka ragam, berbagai macam suku, bangsa, ras dan agama. Bagaimana sikap kita sebagai muslim terhadap banyaknya suku, budaya maupun agama yang ada di Indonesia ini. Perlu saya jelaskan, pluralism itu dibagi menjadi 2 (dua). Yang pertama adalah pluralism teologi, dan yang kedua adalah pluralism sosial.

Bagi umat islam, pluralism teologi itu adalah sesuatu yang tidak boleh kita masuk kedalamnya. Satu contoh, dengan mengatakan semua agama itu benar, semua agama itu masuk surge, itu namanya pluralism teologi dan itu yang difatwakan tidak boleh atau diharamkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI), namun bukan berarti kita diperbolehkan mencaci maki saudara-saudara kita yang bukan muslim, bukan berarti kita dibolehkan memusuhi saudara-saudara kita yang bukan islam, ini adalah prinsip “Lakum diinukum waliyadiin”. Kemudian yang kedua pluralism sosial; kemajemukan, banyaknya suku, banyaknya agama yang ada di Indonesia ini maka kewajiban kita saling menghargai, saling menghormati sesama umat beragama. Silahkan bertetangga dengan orang diluar islam, kita boleh bertetangga dengan nasrani, dengan hindu, dengan buda, denan konghucu, kita boleh berdagang, berjual berbeli, berekonomi dengan mereka dan biarkan mereka bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka tanpa perlu kita ganggu dan kita usik. Ini adalah bagian daripada pluralism sosial, dan ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Loading...

Rasul pernah menjenguk orang Yahudi yang sakit, rasul pernah ngasih makan seorang nenek-nenek Yahudi matanya buta, ditengah pasar tapi tiap hari nyaci maki Nabi. Rasul begitu toleransi kepada orang sekalipun diluar agama islam. Satu ketika rasul lewat ditengah pasar, rasul liat ada seorang nenek tua mata buta, agamanya Yahudi, tiap hari dikasih makan kurma sepulang dari masjid. Singkat cerita rasul meninggal dunia lalu Abu Bakar Siddiq bertanya kepada ‘Aisyah ra “Wahai ‘Aisyah apa yang dilakukan oleh Nabi yang jadi kebiasaan beliau yang belum aku lakukan” Lalu kemudian “Aisyah memberi tahu “Disudut pasar sana, ada seorang Yahudi tua dan buta yang setiap hari diberi kurma oleh rasul, akhirnya Abu Bakar berangkat dan kemudian nyuapin kurma ke mulut si nenek tua buta Yahudi tadi. Dan si nenek berkata “Hai siapa ini, tangan maen masuk-masuk ke mulut, tangannya laen nieh sama yang setiap hari ngasih makan kurma ke mulut saya” Kemudian Abu Bakar menjawab “Wahai nenek tua, tahukah engkau siapa yang memberikan makan engkau setiap hari, itulah Muhammad, itulah Rasulullah yang setiap hari engkau caci dan engkau hina”. Sejak saat itu si nenek tua Yahudi langsung mengucapkan “Asyhadu allaa ilaaha illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullaah”. Begitu hebat toleransi yang ditunjukkan oleh nabi kita Muhammad SAW.

Menyikapi Westernisasi
Pada dasarnya Islam itu sangat menerima budaya apapun yang masuk ke dalam agama kita. Tapi dengan syarat dan catatan tidak boleh bertentangan dengan syariat. Contoh orang-orang barat memakai pakaian minim. Terus kita anggap ini modern, ini bagian daripada globalisasi modern dunia dan akhirnya ikut-ikutan anak-anak remaja kita pakai pakaian minim karena dianggap setengah telanjang itu modern, padahal kalau kita lihat orang gila telanjang, kita seneng apa tidak?

Yang kedua, andai kata ukuran telanjang itu adalah satu ukuran modern maka yang paling modern itu kambing, yang paling modern itu monyet. Monyet telanjang bahkan monyet seneng kalau dipakein baju, ko ada manusia nggak suka di pakein baju, malah lebih senang telanjang. Budaya semacam ini harus kita filter. Tidak boleh kita terima karena rumusnya bertentangan dengan syariat.

Loading...

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *