loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Bulan Madu Pengantin Baru yang Hilang Kontak di Nepal

Kategori Dunia: TrueStory

Kisah Malam Pertama Pengantin Baru yang Hilang Kontak di Nepal. Nepal negara bagian Asia Selatan diguncang gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter pada Sabtu (25/4) lalu. Sekitar 3.200 jiwa dilaporkan tewas atas bencana yang melanda kawasan pegunungan Himalaya itu. Pada saat gempa terjadi, 32 orang warga Indonesia berada di Nepal. Baik yang tinggal di sana atau yang hanya berwisata.

“Data kami mencatat 32 orang WNI ada di Nepal, yang kita terima saat ini 18 orang sudah konfirmasi (selamat),” ungkap Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal saat diwawancara merdeka.com, Minggu (26/4).

Dari sisa jumlah yang belum terkonfirmasi, tiga diantaranya merupakan warga Bandung yakni Andana (26), Alma Parahita (31) dan Jeroen Hehuwat (39). Mereka pergi ke Nepal untuk mendaki gunung Gunung Naya Kangga dan Yala Peak. Bahkan dua orang Andana (26) dan Alma Parahita (31) merupakan pasangan pengantin baru. Selain mendaki gunung bersama, keduanya berencana untuk berbulan madu.

Berikut kisah cerita pengantin baru yang hilang kontak akibat gempa Nepal, seperti dilansir dari laman Merdeka

Sebelum ke Nepal, Kadek ngaku ingin foto di puncak gunung sama istri

Gempa yang terjadi di Nepal membuat dunia menangis. Sebab, ribuan orang tewas akibat dahsyatnya guncangan gempa tersebut. Semua keluarga dari berbagai negara cemas ketika belum dapat informasi mengenai kondisi sanak saudaranya yang berada di Nepal.

Hal itu juga yang dirasakan Lundhi Farida (59), ibu dari Kadek Andana belum diketahui kabarnya. Apalagi Kadek baru saja menikah pada Minggu 1 Maret 2015 lalu dengan Alma Parahita.

“Jadi memang betul mereka baru saja menikah satu bulan lalu. Keduanya memang hobi mendaki gunung,” kata ibu dari Kadek, Lundhi Farida (59) saat ditemui di kediamannya di kawasan Bukit Dago Utara, Bandung, Senin (27/4).

Lundhi tidak menghalangi keinginan Kadek usai menikah dan bermaksud berbulan madu di perbukitan di Nepal. Ketiganya itu hendak mendaki ke Gunung Naya Kangga dan Yala Peak, Langtang, Nepal.

Lokasi ini berjarak sekitar 150 kilometer dari barat Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia tersebut.

“Karena memang ketika sebelum berangkat anak saya bilang. Mah, saya nanti ingin foto di puncak gunung (Naya Kangga) sama istri. Itu jadi foto pernikahan saya yang dipajang di rumah,” kata Lundhi menirukan ucapan Kadek.

Menurut dia, Kadek belum mau memasang foto pernikahannya kecuali ketika foto anaknya tersebut berada puncak gunung yang berada di ketinggian 5.800 meter. “Jadi di rumah memang belum dipasang foto pernikahan anak saya. Maunya nanti saja, ketika pulang baru di pasang foto,” terangnya.

Kadek kali terakhir berkomunikasi dengan Lundhi pada 23 April lalu. Pria lulusan ITB itu memberi kabar lewat pesan singkat. Hingga kini pihak keluarga dan THC masih terus menunggu informasi dari beberapa otoritas salah satunya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Daka, Nepal.

Anak & menantunya hilang, Farida yakin anaknya sehat dan selamat

Lundhi Farida (59) harap-harap cemas. Perhatiannya tak luput dari handphonenya. Ketika telepon genggamnya berbunyi, dia langsung mengecek. Barangkali itu kabar dari anaknya Kadek Andana (26).

Kadek merupakan satu dari tiga pendaki yang hilang kontak di perbukitan Naya Kangga daerah Langtang, Nepal karena gempa dahsyat yang mengguncang pada Sabtu (25/4) lalu. Pria jebolan ITB itu bertolak bersama istrinya, Alma Parahita (31) dan rekannya Jeroen Hehuwat.

Ketiganya yang masuk dalam keanggotaan Taruna Hiking Club (THC) hendak menuju perbukitan Naya Kangga dan Yala Peak, Langtang, Nepal. Tapi sebelum gempa terjadi, kabar dari ketiganya hilang.

“Saya sudah hilang kontak tanggal 23 April, di situ tidak ada kabar lagi. Sekarang masih nunggu kabar terus. Tapi feeling, anak saya dalam kondisi sehat dan selamat,” kata Lundhi saat ditemui di kediamannya, kawasan Bukit Dago Utara Bandung, Senin (27/4).

Lundhi tidak pernah menghalangi keinginan anaknya itu untuk naik Gunung. Apalagi sejak SMA, Kadek sudah malang melintang menaklukan gunung di Indonesia. Begitu juga dengan Alma yang baru dinikahinya sejak 1 Maret 2015 lalu.

“Keduanya memang bertemu di organisasi tersebut. Mereka baru nikah. Pengantin baru, sekalian bulan madu,” ungkapnya.

Keyakinan bahwa ketiganya akan baik-baik saja juga disampaikan pihak THC. Menurut Koordinator Crisis Centre (THC) Gyaista Sampurno, rekan-rekanya tersebut belum bergerak tinggi menuju bukit Naya Kangga.

Mereka yang berjumlah rombongan 9 orang tiba di Kota Kathmandu pada 21 April. Dari situ mereka bergerak ke arah utara, daerah Langtang.

“Baru tanggal 22 April dia sampai di perbatasan Langtang dan 23 sudah tiba di kampung vilage (Langtang),” terangnya. Namun sejak di perbatasan atau pada 22 April keduanya sudah hilang komunikasi. “Jaringan ke sana terputus semua.”

Jadi, dia menduga rekannya tersebut masih berada di lembah Langtang. “Rencananya baru tanggal 25 akan melakukan aklamatisasi,” ungkapnya.

Dia menyebut Langtang memang merupakan tiga besar perbukitan favorit wisatawan di saat musim semi. “Jadi bukan kami dari Indonesia yang mencari mereka, tapi dari seluruh dunia mencari orang yang sedang berada di Langtang,” jelasnya.

Kabar terakhir dari otoritas Nepal pada Minggu (26/4) sore, disebutkan dia bahwa tim pencarian sudah bergerak menuju Langtang. “Langtang ini masih cukup jauh kalau menuju Gunung Everest, mencapai 150 kilometer,” katanya.

SMS terakhir ke Ibu Kadek sebut menuju ke Langtang

Sebelum hilang kontak, Kadek Andana (26) sempat memberi kabar lewat pesan singkat (SMS) kepada ibunya Lundhi Farida (59). SMS itu diterima Lundhi pada Kamis 23 April 2015 pagi hari. Saat itu Kadek menyampaikan bahwa dirinya dan istri yang baru dinikahi, Alma Parahita (31) bergegas menuju Langtang village, Nepal di ketinggian 3.400 meter.

“Amin, Hari ini Dk (panggilkan Kadek) dan Alma menuju Langtang check point ke 2 ketinggian 3400-an perjalanan sekitar 5 jam dalam kondisi normal,” begitu isi pesan singkat yang dikirim Kadek kepada ibunya, yang diperlihatkan ke wartawan di kediamannya kawasan Bukit Dago Utara, Bandung, Senin (27/4).

Lundhi mengaku sempat berbalas sms tersebut agar anak kedua, dari tiga bersaudara itu selamat dan diberi kelancaran selama mendaki. Namun tak ada lagi balasan dari Kadek hingga hari ini.

“Sampai sekarang enggak ada kabar lagi,” terang Lundhi sambil mencoba menghubungi nomor Kadek.

Dia melalui Taruna Hiking Club (THC) terus menanti kabar dari otoritas Nepal. Dia meyakini anaknya baik-baik saja dan selamat.

Apalagi pendakian juga belum dilakukan belum terlalu jauh, sebab saat gempa terjadi rombongan baru akan melakukan aklimatisasi atau upaya penyesuaian organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya.

Koordinator Crisis Centre THC Gyaista Sampurno juga meyakini, Kadek dkk belum terlalu jauh bergerak ke puncak pendakian perbukitan Naya Kangga dan Yala Peak, Langtang, Nepal.

“Saya yakin masih ada di daerah Langtang. Itu kalau di Indonesia semacam kecamatannya gitu. Tapi memang komunikasi menuju sana sudah terputus,” ungkapnya.

Kabar terakhir THC mendapatkan informasi pada Minggu (26/4) sore bahwa tim pencarian sudah melakukan pencarian di Langtang. Lokasi tersebut juga terdampak gempa dahsyat di Nepal yang terjadi pada Sabtu (25/4) di Epicentrum, Nepal atau 50 kilometer menuju Langtang.

3 Pendaki Bandung yang hilang di Nepal berada 50 km dari pusat gempa

Taruna Hiking Club (THC) menegaskan tiga pendaki; Jeroen Hehuwat (39), Kadek Andana (26) dan Alma Parahita (31) tidak sedang dalam pendakian ke Gunung Everest. THC menyebut tiga anggotanya hendak ke perbukitan Naya Kangga dan Yala Peak, Langtang, Nepal.

Lokasi itu berjarak sekitar 50 kilometer pusat gempa dahsyat yang meluluhlantahkan daerah Epicentrum. Adapun Langtang menuju Everest berjarak sekitar 150 kilometer.

“Jadi banyak yang simpang siur bahwa kawan kami itu ke Everest, padahal tidak,” kata Koordinator Crisis Centre (THC) Gyaista Sampurno saat ditemui di markasnya, kawasan Bukti Dago Utara, Bandung, Senin (27/4).

Gyaista menjelaskan, ke tiga anggotanya itu tiba di Nepal atau tepatnya Kota Kathmandu pada 19 April. Dari situ ketiganya beserta guide yang rombongannya berjumlah 9 orang bergerak ke arah utara, daerah Langtang.

“Baru tanggal 22 April dia sampai di perbatasan Langtang dan 23 sudah tiba di kampung village (Langtang),” terangnya. Namun sejak di perbatasan atau pada 22 April keduanya sudah hilang kontak. Wilayah tersebut memang cukup terisolir. “Ini seperti kecamatan, tapi memang banyak pendaki.”

Dia memastikan, rombongan belum bergerak tinggi ke perbukitan Naya Kangga dan Yala Peak yang berada di ketinggian 5.200 meter. Sebab 25 April ketiganya baru akan melakukan Aklimatisasi diri.

“Aklimitasi ini semacam program adaptasi terhadap oksigen yang volumenya lebih rendah,” terangnya.

Pihaknya hingga kini masih terus menunggu informasi dari otoritas negara tersebut, termasuk KBRI. Dia meyakini, ketiganya hanya hilang kontak. “Mereka itu belum dikatakan hilang. Apalagi ini baru beberapa hari dari 18 rencana kepergiannya di Nepal,” jelasnya.

loading...

Bacaan Terkait: