Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Cerita Kehidupan Lesbian di Negeri Serambi Makkah

Kategori Dunia: TrueStory

Kisah Cerita Kehidupan Lesbian di Negeri Serambi Makkah. Polisi Syariat Kota Banda Aceh, Selasa (29/9) kemarin menangkap dua wanita yang diduga pasangan lesbian. Keduanya saat ditangkap sedang duduk berangkulan dan berpelukan, sekira pukul 23.00 WIB. Keduanya ditangkap saat petugas patroli di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh. Dua wanita itu masing-masing berinisial AS (18) dan N (19). AS mengaku asal Makassar dan baru dua hari tiba di Banda Aceh. Sedangkan N yang berperawakan tomboi mirip dengan laki-laki merupakan warga Gampong Landom, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh.

“Karena duduk berangkulan dan berpelukan, petugas langsung memeriksa dan kita menduga mereka ini pasangan lesbi,” kata Kepala Seksi Penegakan Peraturan Undang-undang dan Syariat Islam, Polisi Syariat Kota Banda Aceh, Evendi A Latif.

Penyidik Polisi Syariat Kota Banda Aceh saat ini masih sedang terus melakukan pemeriksaan kepada kedua pelanggar tersebut. Evendi A Latif juga tidak menampik bila penyidik mengalami banyak kesulitan untuk membuktikannya.

“Tetapi kita tetap terus berusaha, karena ada laporan tadi sudah ada alat bukti baru, meskipun ada banyak kesulitan,” ungkapnya.

Pihak Polisi Syariat juga sudah berusaha untuk menghubungi keluarga kedua terlanggar ini. Akan tetapi hingga sekarang belum bisa terhubung. Terutama pelanggar AS yang mengaku dari Makassar belum bisa berkomunikasi dengan keluarganya.

“Yang dari Makassar itu dibilang ada abang kandungnya di Lhokseumawe, sudah kami hubungi, tetapi gak diangkat. Untuk sementara kita tahan di sini dulu (kantor Polisi Syariat),” jelasnya.

Sementara itu AS menampik mereka ini pasangan lesbi. Dia mengaku baru saja tiba di Banda Aceh tujuan berlibur. AS mengaku hendak pergi ke Sabang, akan tetapi terlebih dahulu bertemu dengan rekannya di Banda Aceh.

“Saya mau ke Sabang, jadi saya jumpa dulu sama kawan N, kawan itu kenal dengan Bapak (orang tua AS),” kata AS.

Perawakan rekannya tomboi dan mirip dengan laki-laki diakui oleh AS. Bahkan AS memanggil rekannya berinisial N adalah Andre. “Dia (N) memang tomboi, memang seperti itu dia,” terangnya.

AS juga mengaku sudah diterima menjadi SPG di salah satu produk rokok di Aceh. Rencananya besok pagi akan dipanggil untuk wawancara dan akan kerja saat konser Wali Band pada hari Sabtu.

“Untung bukan wawancara hari ini, saya mohon bisa dilepas sekarang dan bisa ikut wawancara,” harapnya.

Penyidik Polisi Syariat Banda Aceh menjerat keduanya ini dengan Perda Nomor 5 tentang Pelaksanaan Syariat Islam. Selain itu pelanggar ini juga dijerat dengan Qanun Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Syariat Islam Bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam.

Namun kasus lesbian di Aceh bukan baru pertama kali ini terungkap. Pertengahan April tahun lalu, sepasang pelajar SMU ditangkap atas kasus sama.

F (15), anak baru gede (ABG) di Aceh menjadi lesbi karena patah hati dan kecewa kepada sang kekasih yang ternyata seorang gay. Remaja putus sekolah itu ternyata berasal dari keluarga broken home.

Kedua orang tuanya sudah lama berpisah. Sementara itu, F tinggal sendiri tanpa ada yang mengawasi di rumahnya di Banda Aceh.

“Orangtua saya sudah lama pisah, jadi saya tinggal sendiri di rumah,” katanya kepada merdeka.com, Rabu (12/3/2014) lalu.

Dia mengakui selama ini pasangan lesbinya yakni M (15) kerap tidur dengannya di rumahnya. M saat ini masih duduk di bangku salah satu sekolah menengah umum (SMU) di Banda Aceh.

Sementara itu, D, rekan F yang juga ikut diamankan oleh polisi syariah Aceh juga memiliki pasangan lesbi berinisial Mel yang juga masih duduk di bangku SMU. Kedua pasangan lesbi ini berkawan dan sering menginap di rumah F yang hanya tinggal sendirian selama ini.

Saat ditangkap oleh warga yang kemudian diserahkan pada polisi syariah, D mengaku ditemui oleh ayahnya, tetapi orang tua F meminta untuk dibawa ke kantor polisi syariah.

“Tadi memang ada ayah, tetapi disuruh bawa ke sini,” jelasnya.

D sendiri mengaku sering kumpul bareng di salah satu kafe yang ada di seputaran Simpang Lima Banda Aceh. Di kafe itulah dia bertemu dengan pasangannya berinisial Mel yang masih duduk di bangku SMU.

“Saya menjadi seperti ini sejak 10 tahun yang lalu,” ungkap D yang menggunakan baju kuning dan menggunakan behel gigi kepada merdeka.com kala itu.

Untuk mengelabui orang lain agar mereka tidak diketahui sebagai wanita, mereka mengikat dadanya agar payudaranya tak menonjol agar berbentuk. Selain itu, mereka juga mengenakan pakaian dan memotong rambutnya dengan gaya pria.

Petugas polisi syariah Banda Aceh, Zamzami membenarkan permintaan warga agar D dan F dibina polisi. Pihaknya langsung menjemput ABG itu dan membawanya ke kantor setelah dimandikan oleh warga.

“Benar, tadi ada datang orang tua F, demikian juga kepala desa setempat meminta untuk dibawa ke kantor WH,” tukasnya.

loading...

Bacaan Terkait: