Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Inspiratif Dewanti Gadis SMP yang Menafkahi Keluarganya

Kategori Dunia: TrueStory

Powered by: id.neuvoo.com

Kisah Inspiratif Dewanti Gadis SMP yang Menafkahi Keluarganya. Diusianya yang masih belia Dewanti Rustini Putri harus memikul beban berat dalam hidupnya. Gadis kelahiran 13 Juli 2001 itu harus membantu neneknya Omih (85), yang terbaring lemas di kasur dan bapaknya yang kondisinya suka melemah saat bekerja, Iwan Riswanto (42).

Tapi Dewanti tetap kuat melalui hari-harinya. Selain tanggung jawab utama sebagai anak sekolah, gadis akrab disapa Wanti itu juga harus membantu orang se-isi rumahnya. Paling tidak, dia tidak mau merepotkan orangtuanya.

Tidak terlihat keluh di wajahnya yang manis itu. Bahkan dia tetap bersemangat di hadapan ayah dan nenek kesayangannya tersebut. “Saya enggak malu hidup kaya gini,” terang Wanti dengan senyum.

Dan berikut adalah kisah inspiratif Dewanti Rustini Putri Gadis Belia yang Mampu Hidupi Nenek dan Ayahnya, sebagaimana Dunia Baca dot Com lansir dari laman Merdeka.

Waktu tepat menunjukkan pukul 13.30 WIB. Dewanti Rustini Putri, gadis asal Kabupaten Bandung itu baru saja pulang sekolah, di SMP MTS Al-Amal, Desa Mekarsari, Kampung Gambung, Kecamatan Pasirjambu.

Sesekali dia terlihat menyeka keringat di wajahnya yang manis. Gadis yang akrab disapa Wanti itu terlihat cukup lelah. Dia langsung bergegas menyimpan gembolan tas yang sudah kusam. Kerudungnya disimpan rapi di kursi yang lapuk.

Wanti, saban harinya harus sekolah dengan berjalan kaki yang jaraknya sekitar 500 meter. Jalan ke sekolah harus melewati liku dan menanjak.

“Iya baru pulang sekolah, terus tadi ke rumah teman dulu abis main sebentar,” tutur Wanti polos kepada merdeka.com, saat ditemui di kediamannya, Jumat (20/3).

Gadis kelahiran 13 Juli 2001 silam itu langsung menghampiri nenek tercintanya Omih (85). Tubuhnya terbaring lemas di ruang tengah. Omih tidak bisa duduk sempurna lantaran pernah jatuh di halaman rumahnya tiga tahun lalu.

Wanti terlihat sangat menyayangi sang nenek yang memang sudah ikut mengurusnya sejak kecil. Tidak lupa, Wanti juga menanyakan kondisi bapaknya Iwan Riswanto (42) setiba di rumah. Kini Iwan tak bisa berbuat banyak, lantaran kondisi fisik yang kerap sakit saat harus kerja keras.

“Saya belum bisa kerja, karena kalau harus kerja keras, kepala saya suka pusing berat,” ungkap Iwan.

Iwan sudah berpisah dengan istrinya sejak empat tahun lalu. Bahtera rumah tangga yang dijalinnya kandas. Iwan memutuskan untuk mengurus Wanti anak keduanya. Sedangkan kakak dan adik Wanti dibawa istrinya.

“Sekarang saya di rumah saja mengurusi Wanti, ibu saya (Omih), saya hanya bisa jaga ibu saya saja sambil mengerjakan pekerjaan rumah, karena kalau kerja saya suka sakit,” jelasnya.

Iwan sempat bekerja di percetakan sebelum memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di kaki bukit Gunung Tilu tersebut. Tabungannya yang menyusut membuat dia harus memutar otak untuk bisa menghidupi keluarga kecilnya. Tapi apa daya kondisinya tidak memungkinkan.

Iwan hidup hanya didapat dari belas kasihan kakaknya yang bekerja di Jakarta. “Satu bulan dikirim Rp 500 ribu, kalau ada kadang Rp 1juta. Ya dicukup-cukupi saja,” jelasnya.

Namun seberkas sinar itu hadir dari Wanti. Bakat menyanyi kasidah yang dimilikinya membawa berkah untuk keluarga kecilnya. Meski bukan penghasilan tetap, tapi sesekali dia bisa meringankan beban hidup orang tuanya.

Tak jarang bersama grup kasidahnya, Wanti tampil dari masjid ke masjid. “Ya lumayan suka tampil-tampil, kadang suka ada untuk jajan, kalau lebaran ada THR,” papar Wanti.

Tidak ada keluh di wajahnya. Dia menjalani hidup dengan penuh semangat. Jika kebanyakan seusianya harus menghabiskan waktu untuk bermain, tapi Wanti sadar, beban di rumahnya juga cukup berat. Waktu harus dia bagi.

“Ya harus mencuci baju, terus bantu nenek kalau misalkan ingin ke air atau makan,” kisahnya. Semua itu dimaksudkan agar neneknya bisa tetap sehat dengan segala keterbatasannya. “Yang penting nenek dan bapak sehat dulu.”

Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Wanti pun berpamitan kepada merdeka.com untuk latihan kasidahan.

“Biasanya sampai pukul 16.30 saya latihan nyanyi kasidahan,” imbuhnya yang bermimpi untuk menjadi penyanyi kasidah.

Usai pulang latihan, barulah Wanti menyempatkan bermain dengan temannya. “Pulangnya suka ikut nonton televisi di rumah temen. Karena di rumah enggak ada kan, cuma ada radio,” paparnya.

Sebelum berangkat berlatih Wanti memijat tangan neneknya dan sungkem kepada bapaknya.

loading...

Bacaan Terkait: