Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Mengharukan Pemuda yang Dipasung selama 16 Tahun Gara-gara Warisan

Kategori Dunia: TrueStory

Kisah Ketut Ardana di Pasung 16 Tahun Karena Rebutan Warisan. Sikap tidak manusiawi diperlakukan Ketut Ardana (40) oleh keluarganya yang tinggal di Banjar Tetelan, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana di Bali. Ardana yang mengalami gangguan jiwa sejak lama ini harus dipasung di sebuah gudang kosong dan gelap sejak belasan tahun lamanya.

Sebagaimana dilansir dari laman Merdeka, bahkan wartawannya yang berusaha dengan baik-baik untuk mengambil gambar Ardana, nyaris mendapat perlakuan adu fisik. Itu karena keluarga takut aibnya terbongkar. Informasi yang didapat dari lingkungan sekitar, laki-laki itu awalnya normal. Namun entah kenapa, Ardana langsung disekap dan dipasung.

“Kita tidak tahu kenapa. Warga sudah pernah tanya kebenaran itu tentang Ardana, tapi dijawab ketus,” ucap salah seorang warga di Melaya, Jembrana, Senin malam, seperti dilansir dari laman Merdeka.

Parahnya lagi, Ardana diperlakukan jauh melebihi perlakuan terhadap binatang. Dari cara memberi makan hingga tidak pernah dimandikan selama belasan tahun.

“Pernah saya intip, hanya disirap saja. Itupun bukan mandikan, tetapi membersihkan kotorannya,” ucap sumber ini.

Pintu ruangan juga dibuat seperti jeruji penjara dengan menggunakan besi bangunan dan tidak pernah dibuka. “Pihak keluarga melarang siapapun yang hendak menengok kondisi Ardana,” Imbuhnya.

Sementara itu Kadis Kesehatan Jembrana I Putu Suasta, dikonfirmasi mengakui adanya warga Tetelan, Candikusuma, Melaya yang mengalami nasib seperti itu. Pihaknya juga sudah mulai mengambil tindakan. Pihaknya menjalin kerjasama dengan Suryani Institude for Mental Healt (SIMH) untuk penyembuhan.

“Dia (Ardana) terkurung dalam sebuah kamar selama 16 tahun, atau sejak berusia 24 tahun. Siapapun kalau dikurung seperti itu akan stress dan sama sekali tidak diberikan keluar, ini pelanggaran HAM berat,” ujarnya.

16 Tahun dipasung karena rebutan warisan, Ketut Ardana atau Ardika akhirnya bebas

Tidak hanya seluruh staf dinas sosial dan kesehatan yang menitikkan air mata, bahkan, petugas Satpol PP yang berbadan tegap turut menangis tatkala laki-laki yang dituding gila itu berhasil dikeluarkan dari sekapan dan pasungan keluarganya. Drama pembebasan Ketut Ardika di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana di Bali, Selasa (11/11) sangat alot.

Setelah mendapat pengertian dari berbagai pihak dan warga adat, akhirnya laki-laki yang dikenal nama Ardana ini ternyata punya nama asli Ketut Ardika.

“Tolong Saya Pak..tolong. Saya tidak gila, saya tidak gila. Saya tidak mau lagi, Saya mau pulang,” isak tangis Ardika memohon dalam rumah yang dipagari bak penjara itu.

Selama 16 tahun terpasung, di saat dirinya harus menikmati keremajaannya kala itu. Tentu membuat dirinya gangguan mental. Saat warga bersama pejabat pemerintah menemui Ardika. Nampak senyum dan sambil menangis terpancar di wajah laki-laki berkulit putih bersih ini.

Pemkab Jembrana melalui Kadis Kesehatan dr Putu Suasta langsung mengambil keputusan untuk mengeluarkan Ardika, setelah sempat melihat kondisi kejiwaannya. “Demi hukum, kalau bapak akan keluarkan kamu sekarang juga,” kata dr Suasta di hadapan Ardika.

Bahkan dengan jiwa besar, Ardika yang terus ngoceh dengan bahasa Bali tidak akan balas dendam kepada sembilan saudaranya yang telah membuat dirinya kehilangan masa depan selama 16 tahun. “Saya mau keluar, tidak mau apa-apa,” hanya itu yang keluar dari kata-kata Ardika, Selasa (11/11).

Saat ditanya nama ibunya, Ardika menjawab bahwa ibu kandungnya bernama Nyoman Bakti sedangkan ayahnya Ketut Nirta. “Saya mau jalan-jalan, keluar..keluar,” pinta Ardika.

Kedatangan dr Suasta dan sejumlah tenaga medis tersebut adalah untuk mengecek perkembangan kejiwaan lelaki berumur 40 puluh tahun lebih itu. Di samping itu, juga untuk melakukan pendekatan kepada pihak keluarga agar bersedia membebaskan Ardana dari tempat pemasungan guna memudahkan dalam pemeriksaan kesehatan yang bersangkutan.

“Dia (Ardana-red) harus mendapatkan perawatan yang intensif dan perkembangannya harus dipantau terus. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan dia dari pemasungan karena pemasungan dan pengrangkengan sangat mempengaruhi psikologisnya,” terang Swasta.

Sebelumnya pihaknya juga telah mengunjungi yang bersangkutan dan telah berusaha meminta pihak keluarga agar bersedia memberlakukan Ardana lebih manusiawi. Namun pihak keluarga menolak keras membebaskan Ardana dengan alasan keselamatan. “Bagaimanapun ini pelanggaran HAM dan harus dihentikan,” tegasnya.

Semua bersorak dan mengusap tisu mengusap air mata, terharu saat Ardika menangis sejadi-jadi bersujud ke pertiwi layaknya seorang Napi yang bebas. Selama ini Ardika dihukum 16 tahun tanpa sidang tanpa hakim tanpa pembelaan. Ardika dipasung diduga karena rebutan warisan.

loading...

Bacaan Terkait: