loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Menyedihkan Anak-anak yang Jadi Korban Kejahatan Paedofilia

Kategori Dunia: TrueStory

Kisah Menyedihkan Anak-anak yang Jadi Korban Kejahatan Paedofilia. Kasus pelecehan anak di bawah umur kini semakin menyedihkan. Khususnya di Indonesia, banyak anak-anak yang secara seksual belum matang (biasanya di bawah usia 13 tahun) menjadi korban kejahatan seksual seperti pencabulan oleh orang dewasa yang kerap diidentikan dengan Paedofilia atau paedofil.

Indonesia sendiri ternyata menjadi ‘surga’ pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Terhitung sejak 2012 hingga 2014, Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang daerah wisatanya sering dikunjungi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

“Riset selama tiga tahun terakhir dari 2012-2014 itu Indonesia secara keseluruhan menjadi paling utama atas untuk daerah tujuan wisata pelaku kejahatan seksual. Khususnya untuk kejahatan seksual anak,” kata Country Manager Indonesia Terre Des Hommes, Sudaryanto. Berikut kasus-kasus kekerasan terhadap anak atau paedofilia yang terjadi di Indonesia, antara lain:

Bocah TK JIS disodomi petugas kebersihan sekolah

Siapa yang tak ingat dengan pelecehan seksual yang terjadi di sekolah berbasis internasional, Jakarta International School (JIS), Cilandak, Jakarta Selatan, pada 2014 lalu. Seorang siswi TK JIS, M (5) disodomi beberapa petugas kebersihan (Cleaning Service). Padahal sekolah ini diketahui lengkap dengan penjagaan dan keamaan yang ketat.

Pencabulan terhadap M, diketahui setelah T, ibu korban, melihat kejanggalan yang terjadi pada anaknya itu. M menjadi sering ketakutan, mengigau dan berteriak ketika tidur. Kegundahan T semakin menjadi setelah melihat luka memar di bagian kanan perut anaknya. Kemudian, sang anak mengaku ‘dinakali oleh seseorang’.

Polisi pun menetapkan tiga orang menjadi tersangka kasus sodomi M (5). Dua tersangka Agung dan Frizkiawan langsung dijebloskan ke penjara, sedangkan tersangka Afriska, seorang perempuan, akhirnya dilepaskan setelah menjalani pemeriksaan.

Tiga tersangka merupakan petugas kebersihan (cleaning service) sekolah. Berdasarkan pemeriksaan saksi dan hasil visum, Agung dan Frizkiawan (Awan) terbukti melakukan sodomi terhadap M (5). “Untuk wanita tidak ikut serta, tetapi tahu kejadian tidak melapor. Kita tetapkan jadi tersangka,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di kantornya.

Terungkapnya kasus M ternyata membuka lubang pelaku seksual lainnya di JIS. Setelah M, ada beberapa pengungkapan kejanggalan lainnya, seperti kembali murid TK JIS yang jadi korban sodomi. Siswa TK itu mengaku disodomi di dalam kelas dan toilet oleh salah satu pelaku yang mencabuli korban sebelumnya, M.

Selain itu, empat orang lainnya yakni Syahrial dan Zainal Abidini yang juga selaku petugas kebersihan, serta dilanjutkan dengan dua orang guru Jakarta International School (JIS) yakni Neil Bantleman (NB) dan Ferdinant Tjiong (FT) pun ditetapkan sebagai tersangka pula dalam kasus pelecehan seksual ini.

Namun setelah menjalani sidang, kedua guru tersebut dinyatakan bebas oleh hakim Pengadilan Tinggi Jakarta, sedangkan Syahrial dan Zainal divonis delapan tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara.

Sodomi 47 anak di bawah umur, Emon gegerkan Sukabumi

Emon (24) membuat geger Sukabumi, Jawa Barat pada Mei 2014 lalu. Dari pemeriksaan polisi, dia diduga telah menyodomi kurang lebih 47 orang anak di bawah umur.

“Menurut laporan yang kami terima dari para keluarga korban. Korban 47 orang,” kata Kapolres Sukabumi AKBP Hari Santoso di kantornya, Sabtu Mei 2015 lalu.

Hari memaparkan, para korban Emon saling mengejek soal iming-iming uang yang digunakan Emon untuk membujuk mereka. Emon memang membujuk calon korbannya dengan uang, agar mau dibawa ke tempat sepi dan disodomi.

“Ayo-ayo Rp 25.000. Ayo Rp 50.000. Bahkan Emon akan mengajari ilmu bisa terbang, lari cepat, jurus monyet, musang dan Kian Santang jika si anak itu mau menuruti apa perintahnya seperti disodomi,” kata Hari.

Sementara itu, salah satu keluarga korban sodomi Emon mengaku baru mengetahui kasus ini setelah anaknya mengeluh sakit saat buang air besar. Mereka kaget saat mendengar anaknya bercerita pernah disodomi Emon.

“Kami harap dia dihukum seberat-beratnya,” ujar orangtua salah satu korban Emon.

Akan perbuatannya, Emon mengaku menjadi korban sodomi waktu masih anak-anak. Dari sana dia suka bocah sejenis.

“Saya pernah disodomi oleh teman saya. Awalnya saya diajak keluar, untuk main. Tiba-tiba saya dibawa ke tempat sepi lalu saya disodomi,” kata Emon saat ditemui di Mapolres Sukabumi.

Dirinya pun terbukti bersalah dan melanggar Pasal 82 Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan hukuman 17 tahun penjara dan denda Rp 200 juta atau jika denda tidak dibayarkan maka terpidana harus menggantinya dengan kurungan penjara selama enam bulan.

Buruh serabutan di Tegal sodomi ratusan bocah

Usai digegerkan pelaku pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan Emon di Sukabumi dan beberapa petugas di JIS, warga Tegal digegerkan dengan terungkapnya kasus serupa. Bahkan, korbannya mencapai ratusan orang.

Adalah Samai alias Ropii (45), warga Desa Lebaksiu Lor RT 02 RW 02 Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal yang tega melakukannya nafsu sesaatnya terhadap anak-anak. Buruh serabutan ini berhasil diringkus Polres Tegal, pada Mei 2015 lalu.

Kapolres Tegal, AKBP Tommy Wibisono menyebutkan penangkapan dilakukan setelah seorang korban berinisial EM (14) melapor pada 2 Mei 2014 lalu. Saat diperiksa, Samai bahkan membuat pengakuan cukup mengejutkan, dia telah mencabuli ratusan anak-anak sejak 2011 lalu.

“Kami baru memeriksa enam orang korban,” ungkap Tommy di kantornya, Minggu (11/5).

Usai mendapat laporan tersebut, polisi menerjunkan tim untuk meringkus Samai pada Jumat siang. Pelaku pun berhasil ditangkap usai melaksanakan salat Jumat.

Sebuah pengakuan juga diungkap Samai, dia menjadi korban sodomi oleh seorang pria yang tak dikenalnya saat masih di Jakarta. Saat kejadian itu, Samai masih berusia delapan tahun.

“Sewaktu masih usia delapan tahun saya pernah menjadi korban juga. Pelakunya seorang pria yang tidak saya kenal. Waktu itu kejadiannya di Jakarta,” bebernya.

Atas perbuatannya, Samai terancam dipidana 15 tahun sesuai Pasal 82 UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Seorang guru di Medan cabuli tetangganya

Seorang oknum guru di sebuah sekolah dasar (SD) swasta, PH (34) diboyong beberapa warga masyarakat dari rumahnya Jalan Murai Perumnas Mandala ke Mapolresta Medan, karena diketahui telah mencabuli bocah yang bukan lain tetangganya sendiri, berinisial DW (7), pada April 2014 lalu.

Aksi pelaku terungkap setelah orangtua korban merasa curiga saat melihat kondisi badan anaknya demam dan meringis menahan sakit di bagian anusnya. Merasa curiga, ibu korban bernama Karningsih (49) memeriksa kondisi anaknya.

Korban pun menceritakan bahwa dirinya telah disodomi oleh PH (34) di dalam kamar mandi rumahnya. Korban menceritakan, pelaku juga mengiming-imingkan permen agar dirinya mau dimandikan oleh si pelaku. Atas kesaksian korban, pelaku pun dijebloskan ke dalam ruang tahanan Polres Kota Medan, Sumatera Utara.

Keputusan penahanan itu diungkap Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Jean Calvijn Simanjuntak. Jean menjelaskan, tersangka telah ditahan ke Rumah Tahanan Polisi (RTP) oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA). Penetapan tersangka PH, ditetapkan berdasarkan hasil visum dan saksi yang mengetahui peristiwa tersebut.

“Dari hasil visum itu membuktikan korban telah mengalami pencabulan di bagian anusnya. Kami juga mengamankan empat buah permen Yupi sebagai barang bukti,” ucap Calvijn, Kamis (24/4), seperti dilansir dari Antara.

Dia menyebutkan, keterangan dua orang saksi yang merupakan teman DW, mendengar teriakan korban saat berada di rumah pelaku. Selain itu, korban juga dibekap mulutnya ketika berteriak menahan rasa sakit akibat pencabulan tersebut.

Ketika ditanya kemungkinan ada korban pencabulan lainnya, Calvijn menyatakan polisi masih melakukan pengembangan.

“Oknum guru yang melakukan perbuatan cabul tersebut, dijerat pasal 81 dan 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang tindak pidana perbuatan cabul terhadap anak dengan ancaman 15 tahun kurungan penjara,” tutupnya.

Terangsang intip siswi SMP tidur, pria 45 tahun akan memperkosa

Gara-gara tak kuat menahan birahi, Surono, warga Demak, Jawa Tengah, nekat mencabuli seorang gadis SMP berinisial NS, (12) di dalam kamar, pada September 2014 lalu.

Peristiwa pencabulan tersebut terjadi saat gadis yang masih sekolah di sebuah SMP itu tengah sendirian di dalam rumahnya, sekitar pukul 14.00 siang. Saat mengetahui korbannya sedang sendirian di dalam kamar, lelaki 45 tahun itu lalu mengendap-endap masuk ke rumah korban.

Masmiah (45), ibu korban, mengatakan saat itu tanpa sepengetahuan anaknya, pelaku masuk ke dalam kamar. Melihat anaknya sedang tertidur, kata Masmiah, pelaku kemudian langsung meraba bagian sensitif korbannya.

Tak hanya menggerayangi tubuh anaknya, pelaku juga meminta korban menciuminya. “Itu dilakukan sama dia (pelaku) saat saya pergi keluar rumah dan anak saya sedang sendirian,” kata Masmiah, saat mengadukan ke Polrestabes Semarang, Jawa Tengah.

Mengetahui aksi bejat pelaku, NS langsung berontak dan melaporkan kepada kedua orangtuanya. “Karena saking takutnya dan trauma, dia bilang kepada saya katanya sudah digerayangi oleh pelaku,” urainya.

Kanit II SPKT Polrestabes Semarang AKP Sapari, menyebut aksi pencabulan itu ditangani petugasnya dan sudah melimpahkan kasus itu ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Semarang, dan dilakukan proses sesuai dengan hukum yang berlangsung.

loading...

Bacaan Terkait: