Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Para Penulis Terkenal di Dunia yang Mati Bunuh Diri

Kategori Dunia: TrueStory

Powered by: id.neuvoo.com

Kisah Bunuh Diri para Penulis Terkenal di Dunia. Sejumlah penulis yang terkenal di dunia telah berjuang melawan depresi dan godaan untuk bunuh diri. Meski, tidak semua penulis mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri.

Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kebuntuan dalam berkarya ataupun depresi dengan bunuh diri. Nah, berikut adalah lima penulis yang tewas bunuh diri, sebagaimana Dunia Baca dot Com lansir dari laman Merdeka.

#5. Hunter S. Thompson
Hunter Thompson sering menulis dengan caranya yang sangat subyektif, menggabungkan pengalamannya sendiri dan kreativitas artistik dalam bercerita. Hasilnya adalah suatu bentuk tulisan yang mengaburkan garis antara kebenaran dan fiksi.

Selama bertahun-tahun ia bekerja di berbagai tempat yang berbeda di seluruh Amerika Serikat dan bahkan di tempat-tempat seperti Puerto Rico dan Brasil. Kemudian saat dirinya mulai meneliti kisah di balik pembunuhan jurnalis Ruben Salazar oleh polisi Los Angeles, Hunter memiliki ide untuk mengarang novel Fear and Loathing, yang awalnya muncul di majalah Rolling Stone pada 1971, memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak untuk majalah.

Hunter kemudian menderita berbagai masalah kesehatan, yang mungkin menjadi faktor di balik keputusannya untuk bunuh diri. Pada tanggal 20 Februari 2005, Hunter mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya dengan senpi.

#4. Iris Chang
Wanita bernama lengkap Iris Shun-Ru Chang ini adalah seorang sejarahwan dan wartawati lepas Tionghoa-Amerika. Namanya kemudian dikenal luas karena bukunya yang kontroversial tentang pembantaian Nanking yang diberi judul The Rape of Nanking. Ia melakukan bunuh diri pada tahun 2004 setelah menderita depresi yang disebabkan oleh bipolar disorder.

#3. David Oliver Relin
David Oliver Relin adalah salah satu penulis buku terlaris di dunia yang berjudul Three Cups of Tea. Menurut pengakuan pihak berwajib, David melakukan bunuh diri di Portland pada tanggal 14 November 2012. Polisi mengatakan bahwa David meninggal karena cendera parah di bagian kepala yang disebabkan oleh benda tumpul.

#2. Ernest Hemingway
Lahir dan dibesarkan di Oak Park, Illinois, Amerika, bakat sastra Ernest Hemingway telah terlihat sejak dirinya remaja. Ketika akhirnya ia bekerja sebagai penulis dan editor untuk koran sekolah, nama Ernest cukup disegani oleh teman-temannya.

Pasca wisuda, ia pun segera bekerja sebagai reporter pemula di The Kansas City Star dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menjadi sopir ambulans milik Palang Merah di Italia selama Perang Dunia I, dan setelah ia kembali ke Amerika Serikat, Ernest akhirnya pindah ke Toronto dan mendapatkan pekerjaan di Toronto Star Weekly, di mana ia bekerja sebagai freelancer, staf penulis, dan koresponden asing.

Ernest terkenal karena mampu menulis beberapa novel terlaris yang sekarang dianggap sebagai sastra klasik Amerika, seperti For Whom The Bell Tolls (1940) dan The Old Man And The Sea (1952). Kontribusinya terhadap sastra membuatnya memenangkan Penghargaan Pulitzer (1953) dan Hadiah Nobel (1954).

Namun sayangnya, Ernest kemudian mengalami kecanduan alkohol yang menyebabkan dirinya menderita tekanan darah tinggi dan masalah hati. Tak lama berselang pada tahun 1961, ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di rumahnya sendiri di Sun Valley. Meski sempat digagalkan, Ernest berhasil merenggut nyawanya dengan menembakkan pistol di mulutnya.

#1. Yukio Mishima
Yukio Mishima atau bernama pena Kimitake Hiraoka, adalah seorang penulis, aktor, dan penulis naskah yang sangat produktif di Jepang. Di bawah asuhan sang nenek yang terlalu protektif hingga berusia 12 tahun, Yukio tidak diizinkan untuk bermain dengan anak-anak lain, ikut tanding olahraga, atau bahkan terkena sinar matahari.

Ketertarikan awal Yukio pada sastra dan menulis memicu bentrokan dengan ayahnya yang berlatar belakang militer. Saking bencinya, ayah Yukio bahkan rela menghancurkan semua naskah putranya. Namun, Yukio tetap teguh pada pendiriannya dengan menjadi anggota termuda dewan redaksi sekolah elit dan kemudian menerbitkan puisi dan prosa di sejumlah majalah bergengsi. Untuk melindungi dirinya dari cemoohan teman-teman sekelasnya, Yukio kemudian mengganti namanya dengan nama pena.

Yukio lulus dari Universitas Tokyo pada tahun 1947 dan terus mempublikasikan cerita, puisi, dan dramanya. Sangat tertarik pada kebugaran fisik dan seni bela diri, ia kemudian bergabung dengan Angkatan Bela Diri Jepang dan membangun tim prajurit sendiri yang disebut Shield Society.

Pada tahun 1970, Yukio dan empat anggotanya mengambil alih markas Angkatan Bela Diri Jepang. Yukio memberikan pidato tentang tuntutannya untuk mengambil alih kekuasaan kaisar Jepang, dan kemudian mengakhiri hidupnya dengan melakukan seppuku. Dia telah merencanakan secara matang bunuh diri tersebut selama setahun. Seppuku adalah bentuk ritual bunuh diri Jepang, yang awalnya hanya diperuntukkan bagi samurai.

loading...

Bacaan Terkait: