loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Pria dapat Uang Nyasar Rp 5,1 M dari BNI Lalu Dihamburkan

Kategori Dunia: TrueStory

Kisah Pria dapat Uang Nyasar Rp 5,1 M dari BNI Lalu Dihamburkan. Siapa yang tak gembira mendapatkan uang dalam jumlah banyak secara cuma-cuma. Seperti itulah yang dirasakan S, pria asal Desa Ngabang, Landak, Kalimantan Barat.

Pada 2 Februari lalu, dia gembira bak mendapat durian runtuh. Sebab di rekening Bank Negara Indonesia (BNI) miliknya, masuk uang miliaran berjumlah Rp 5,1 miliar.

Tentu bukan nilai yang sedikit. Kaget mendapat uang sebanyak itu, S bingung. Bukannya bertanya kepada BNI perihal uang yang masuk ke rekeningnya, S malah memakai uang itu.

“Kasus S berangkat dari kelalaian pihak bank yang salah ketik nomor rekening harusnya ….24 terketik nomor rekening….42 yang nilainya Rp 5,1 miliar. Rekening …..42 itu milik S,” terang Dirkrimsus Polda Kalimantan Barat, Kombes Agus Nugroho, kemarin.

Ke mana saja uang itu dipakaikan?

Uang yang masuk tanggal 2 Februari itu mulai dia pakai pada tanggal 4 Februari. Di tanggal itu, mulanya S mentransfer pada rekannya E sebesar Rp 1,7 miliar. Di hari yang sama pula, S melakukan tarik tunai Rp 500 juta.

“Uang Rp 1,7 miliar ditransfer ke seorang temannya untuk usaha. Kemudian dia tarik tunai Rp 500 juta dan selebihnya masih di bank,” jelasnya.

Tinggal sekitar 2,7 miliar di rekeningnya. Belum sempat menikmati uang itu lagi, S kaget rekeningnya diblokir. Pemblokiran itu dilakukan tanggal 5 Februari oleh BNI setelah sadar ada kesalahan.

“Tanggal 5 sore BNI kemudian melakukan pemblokiran,” tambahnya.

Meski bukan uangnya, S tak terima rekeningnya diblokir. Padahal, setelah melakukan pemblokiran pihak BNI sudah melakukan komunikasi yang mengatakan minta maaf ada kesalahan dan minta uang dikembalikan.

Teman S yang menerima transferan Rp 1,7 miliar untuk usaha langsung mengembalikan saat tahu ada yang tidak beres dengan uang itu. Sementara Rp 500 juta yang ditarik tunai S, hanya bisa dikembalikan Rp 455 juta.

“Pas dikembalikan kurang Rp 5 juta. Kemudian dari pihak kepala bank ditanggulangi, tapi tetap dicicil selama 10 kali dengan nominal Rp 500 juta,” jelasnya.

“Tapi sebelumnya, S juga sudah mengambil Rp 30 juta dengan cash oleh S. Pihak BNI sebut sebagai hibah, asalkan Rp 500 juta dikembalikan.”

Dalam kurun waktu yang cukup lama dan sudah terjalin komunikasi dengan BNI, S mendadak membuat laporan tertulis ke Polda Kalimantan Barat pada 6 Juli lalu. Apa isi laporan itu?

Pada Polda Kalbar dia menyatakan rekeningnya sudah diblokir sepihak oleh BNI. Tapi, dalam laporan itu dia tidak menceritakan soal uang miliaran yang masuk ke rekeningnya.

“Kita juga enggak paham kenapa dia baru lapor, tapi dalam jeda waktu itu ternyata sudah ada proses. Kemudian kepala cabang BNI Pontianak menghubungi BNI wilayah Ngabang kemudian disampaikan ke si S ada kekeliruan dan dimintakan uang yang sudah ditarik tunai dan yang sudah dikirim ke temannya untuk dikembalikan,” jelas Agus.

Setelah mendapatkan laporan itu, pihaknya langsung menelusuri. S juga dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Kita undang dia, kita undang OJK kalau dan BNI,” ungkap Agus.

Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata laporan yang disampaikan S tidak sesuai kenyataannya. Bahkan dalam penjelasan OJK kasus seperti ini si penerima yang tak melaporkan ke bank bisa ditingkatkan ke penyidikan.

“Karena ini pihak yang dirugikan pihak bank” jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Agus, pihaknya sudah menawarkan pada BNI untuk melapor. Tapi pihak BNI belum merespons.

“Mungkin BNI juga sudah berpikir uang sudah kembali, dan S juga nasabah mereka,” jelasnya.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi di BNI sampai bisa nyasar Rp 5,1 miliar?

Corporate Secretary BNI, Tribuana Tunggadewi, membenarkan adanya kesalahan transfer dana ke rekening nasabah di Pontianak, Kalimantan Barat. Kejadian tersebut memang menjadi kesalahan manajemen BNI.

“Peristiwa tersebut memang benar terjadi pada awal Februari 2015 lalu. Kesalahan transfer tersebut telah dikoreksi oleh BNI dan tidak ada kerugian finansial baik bagi nasabah maupun BNI,” ujar dia kepada merdeka.com, Selasa malam.

Dia menegaskan dana tersebut murni milik BNI bukan tindak pencucian uang. Dana tersebut bakal digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan pelat merah tersebut.

“Hal tersebut juga diperkuat adanya Surat Pemberitahuan Penghentian Hasil Penyelidikan (SP2HP) oleh Kepolisian pada Oktober 2015, yang pada intinya tidak ditemukan unsur pidana dalam kejadian dimaksud. Di sisi lain, BNI menghargai itikad baik dari nasabah yang telah kooperatif menyelesaikan permasalahan ini,” kata dia.

Bagi Anda yang mengalami hal serupa yang terjadi pada S, ada baiknya melapor ke bank agar tak repot di kemudian hari.

loading...

Bacaan Terkait: