Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kisah Sedih, Bahagia dan Mengharukan “Menikah di Kantor Polisi”

Kategori Dunia: TrueStory

Powered by: id.neuvoo.com

Kisah Pernikahan di Kantor Polisi “Bahagia, Sedih dan Sangat Mengharukan”. Bagi sepasang muda-mudi kekasih, menikah merupakan saat-saat indah yang ditunggu untuk mengarungi bahtera hidup bersama berdua. Lain lagi dengan Deni Sulistiyono, pemuda asal Desa Bangetayu Kulon dan Sutipah gadis asal Penggaron Lor, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Keduanya menggelar upacara ijab kabul di Aula Kantor Polsek Pedurungan, sebab Deni kini menjadi tahanan dan tersangka atas kasus pencurian laptop usai tertangkap polisi di Jl. Muwardi, Pedurungan, Kota Semarang pekan lalu.

Kebahagiaan bercampur dengan kesedihan muncul selama prosesi pernikahan berlangsung. Bahagia di mana dirinya telah menikahi gadis pujaan hatinya. Namun, di sisi lain kesedihan muncul manakala usai pernikahan berlangsung.

Pasalnya, sepasang kekasih yang baru saja resmi menikah ini harus terpisahkan oleh jeruji penjara sebagai pertanggungjawaban perbuatan Deni di mata hukum.

“Sedih bercampur bahagia. Tak bisa saya ungkapkan kegembiraan itu. Semua sudah disiapkan sejak sebulan lalu, undangan sudah siap dan tinggal menentukan tanggal pelaksanaan ijab. Tapi, ternyata saya harus seperti ini,” seloroh Deni usai ijab kabul berlangsung Selasa(4/2) di Aula Mapolsek Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (4/2), sebagaimana dilansir dari laman Merdeka.

Meski pernikahannya berlangsung di kantor polisi, beberapa teman, keluarga dan sanak famili Deni tetap hadir di upacara pernikahan yang berlangsung sangat sederhana itu. Selama prosesi pernikahan berlangsung, tampak Sutipah sang gadis pujaan hati Deni tidak banyak bicara baik selama prosesi upacara ijab kabul berlangsung.

Deni berharap, usai menikah dengan gadis pujaannya, Sutipah, bisa tetap setia untuk bersabar dan menunggu hingga dirinya bebas dari penjara.

“Saya hanya bisa berharap kepada istri saya Sutipah untuk tetap bersabar dan setia menunggu saya hingga bebas dari hukuman nanti,” ungkapnya.

Sementara, Sutipah di depan penghulu dengan kepala tertunduk dibalik kerudung birunya, selama upacara pernikahan berlangsung hanya diam seribu bahasa. Sutipah hanya bisa memainkan jari jemarinya sebagai tanda kesedihan dan kekhawatirannya.

Usai ijab kabul, tampak meneteskan air mata dan sorot matanya sembab tanda kesedihan mendalam dirasakannya. Sebab, usai menikah dirinya harus rela berpisah dengan pria pujaan hatinya.

Muromin penghulu dari KUA Genuk, Kota Semarang mengungkapkan, selama tahun 2014 sudah ada dua pernikahan yang dilaksanakan oleh orang yang salah satunya masih meringkuk dibalik jeruji tahanan.

“Pertama di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane beberapa waktu lalu dan saat ini Deni ini di kantor polisi,” jelasnya.

Meski statusnya masih terjerat hukum, Muromin berpesan pasangan diharapkan bisa saling setia. Pasalnya, pernikahan yang dilakukan merupakan pilihan hidup yang nantinya harus mereka berdua dijalani.

“Yakinkan saja semua akan berakhir Mbak Sutipah diminta sabar dan Mas Deni diharapkan setelah ini berubah dan tidak melakukan tindak kriminal lagi,” pesannya.

Sementara itu, Kasi Humas Polsek pedurungan Pratiwi Hermawati menjelaskan, izin pernikahan di Mapolsek Pedurungan baru kali pertama diberikan.

“Baru kali ini ada yang mengajukan digelar pernikahan di Polsek Pedurungan. Karena pernikahan adalah hak setiap warga negara, tentu izin diberikan setelah adanya pengajuan dari pihak keluarga mempelai,” imbuhnya.

Layaknya prosesi pernikahan normal lainnya, usai upacara pernikahan beberapa teman yang hadir selain menjadi saksi pernikahan juga memberikan ucapan hingga ‘salam tempel’.

Namun begitu, status Deni yang menjadi tahanan sebagai tersangka pencurian, maka selama pesta pernikahan sederhana itu berlangsung, Deni berada di bawah penjagaan ketat aparat kepolisian baik dari anggota reskrim hingga provost Polsek Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

loading...

Bacaan Terkait: