loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Kronologi Sadisnya Penyiksaan dan Pembunuhan Salim Kancil Aktivis di Lumajang

Kategori Dunia: Nasional

Kronologi Sadisnya Pembunuhan Salim Kancil Aktivis di Lumajang. Salim alias Kancil dan Tosan dikeroyok puluhan preman karena sikapnya yang menolak penambangan pasir di Lumajang, Jawa Timur. Bahkan Kancil harus merenggang nyawa karena aksi sadis puluhan preman itu. Sementara Tosan dirawat intensif di RS dengan luka disekujur tubuhnya.

Menurut hasil penelusuran tim advokasi tolak tambang pasir Lumajang yang terdiri dari Laskar Hijau, WALHI Jawa Timur, KontraS Surabaya, dan LBH Disabilitas, awalnya sekitar Bulan Januari yang lalu masyarakat Desa Selok Awar-awar terkonsolidasi menolak penambangan pasir di Pesisir Pantai Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur.

Sikap mereka tersebut muncul dengan didahului membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar (FKMPDSA). Pembentukan FKMPDSA tersebut diinisiasi 12 warga beberapa di antaranya yaitu, Tosan, Iksan Sumar, Ansori, Sapari, Salim (Kancil), Abdul Hamid, Turiman, dan sebagainya.

“Mereka melakukan Gerakan Advokasi Protes tentang penambangan pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di desa mereka. Dengan cara bersurat kepada Pemerintahan Desa Selok Awar-awar, Pemerintahan Kecamatan Pasirian, bahkan kepada Pemerintahan Kabupaten Lumajang (Bupati Lumajang),” kata Bagian Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim, Rere Christanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/9).

Pada Bulan Juni silam, FKMPDSA menyurati Bupati Lumajang As’at Malik guna menuntut diberi fasilitas audiensi tentang penolakan tambang pasir. Namun keinginan mereka tidak mendapat respon.

Lalu pada Rabu, (9/8) FKMPDSA melakukan aksi damai berupa penghentian operasi penambangan pasir. Upaya yang mereka lakukan ialah memberhentikan beberapa truk bermuatan pasir di depan Balai Desa Selok Awar-awar. Aksi protes tersebut berbuah surat pernyataan dari Kepala Desa Selok Awar-awar untuk menghentikan Aktivitas Penambangan Pasir di daerahnya.

Akan tetapi, keadaan berubah mencekam, pada Kamis (10/9) muncul adanya teror pembunuhan yang dilakukan beberapa pihak kepada warga penolak tambang pasir. “Ancaman pembunuhan oleh tim preman bentukan dari Kepala Desa Selok Awar-awar kepada Bapak Tosan. Tim preman tersebut diketuai oleh Pak Desir. Dan sebelum itu juga ada beberapa Anggota forum (FKMPDSA) yang pernah diancam oleh tim preman tersebut,” tuturnya.

Lalu keesokan harinya perwakilan FKMPDSA melaporkan kejadian tindak pidana pengancaman Ke Polres Lumajang. Kala itu mereka ditemui oleh Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Heri Sugiono. Pada saat itu AKP Heru menjamin dan akan merespon pengaduan FKMPDSA dan mengkoordinasikan dengan pimpinan Polsek Pasirian.

Kemudian Senin (25/9) FKMPDSA melakukan konsolidasi dengan masyarakat guna merencanakan aksi penolakan tambang pasir. Rencana aksi protes tersebut akan dilakukan esok paginya sekiranya pukul 07.30. “Dikarenakan aktivitas penambangan tetap berlangsung dilakukan oleh pihak penambangan,” jelas dia.

Namun justru di hari mereka akan melakukan aksi turun ke jalan, hal nahas terjadi pada dua anggota FKMPDSA. Sekitar Pukul 07.00 WIB, Tosan menyebar selebaran di depan rumahnya bersama Imam. Kemudian ada satu orang kebetulan melintas dan berhenti sempat marah-marah tak jelas, setelah itu dia meninggalkan Tosan dan Imam.

Setengah jam kemudian gerombolan massa bermotor dengan jumlah sekitar 40 orang mendatangi Tosan. Tanpa basa-basi mereka mengeroyok Tosan. Mereka bersenjatakan balok kayu, batu, dan celurit.

“Awalnya Tosan sempat melarikan diri dengan menaiki sepeda angin, namun masa terus mengejar, pada saat di lapangan Persil, korban terjatuh, dianiaya dan diamuk massa dengan memakai pentungan kayu, pacul, batu dan celurit. Setelah korban terjatuh masa sempat melindas (tubuh Tosan) dengan sepeda motor,” terangnya.

Tosan luka berat dan dilarikan ke Puskesmas Pasiran lalu dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Lumajang. Namun karena didapati kondisinya terlalu parah, maka Tosan dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Saat ini dia masih terbaring di Ruang ICU usai menjalani operasi.

Kemudian massa masih tak puas mengeroyok satu orang, lantas mereka menuju kediaman Salim yang kerap dipanggil Kancil. Kala itu Salim sedang menggendong cucunya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Melihat gerombolan massa datang ke rumahnya, korban menaruh cucunya di lantai.

Setelah itu massa mengikat kedua tangan korban memukuli dengan kayu dan batu. Lalu massa membawa Salim ke Balai Desa Selok Awar-awar dengan cara diseret sejauh 2 kilometer. Sesampainya di Balai Desa dari kejauhan sampai terdengar suara kesakitan Salim yang tengah disiksa. Akibatnya proses belajar mengajar di sekolah Anak-anak PAUD di Desa sampai dihentikan dan siswa dipulangkan.

“Jarak rumah korban dengan balai desa sekitar 2 kilometer, pada saat di balai desa korban sempat mendapat penyiksaan, selain dipukuli, digergaji lehernya, disetrum, kejadian ini kurang lebih setengah jam sampai menimbulkan kegaduhan,” terangnya.

Lalu secara biadab massa membawa Salim ke dekat kompleks pemakaman. Di situ Salim diminta berdiri tangan terikat dan diangkat ke atas. “Kemudian massa membacok perut selama tiga kali namun tidak menimbulkan luka sama sekali. Kemudian kepala korban dikepruk pakai batu dan mengakibatkan korban meninggal posisi tertelungkup dengan tangan terikat dengan tambang. Tubuh, terutama Kepala korban penuh luka benda tumpul, di dekat korban banyak batu dan kayu berserakan,” jelasnya.

loading...

Bacaan Terkait: