loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Peranan Akal Dalam Pandangan Ulama Dan Mufassir

Kategori Dunia: Pendidikan, Referensi Skripsi
Loading...

Peranan Akal – Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya “Pengertian Akal Menurut Al-Qur’an”. Jika Anda sedang mencari contoh karya ilmiah tentang konsep akal, maka kedua artikel ini bisa dijadikan sebagai bahan refferensi karya ilmiah Anda.

Peranan Akal dalam Memahami Ketuhanan
Akal dalam kehidupan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengan akal, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak dapat/tidak boleh dilewati.

Karena itu, manusia harus berhenti dari aktivitas akalnya ketika akal telah sampai pada kulminasinya dan berpindah kepada keimanan ketika berbicara tentang Tuhan, akhirat dan sesuatu yang berada di luar kemampuan akal. Akal memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya dan tidak percaya tentang wujud Tuhan tapi agama dan perasaan mewajibkan manusia untuk percaya bahwa Tuhan itu ada.

Muhammad Abduh dalam buku Risalah Tauhid berpendapat bahwa metode al-qur’an dalam memaparkan ajaran-ajaran agama berbeda dengan dengan metode yang ditempuh oleh kitab-kitab suci sebelumnya, al-qur’an tidak menuntut untuk menerima begitu saja apa yang disampaikan, tetapi memaparkan masalah dan membuktikannya dengan argumentasi-argumentasi, bahkan menguraikan pandangan-pandangan penentangnya seraya membuktikan kekeliruannya.

Menurutnya juga, ada masalah keagamaan yang tidak dapat diyakini kecuali melalui pembuktian logika, sebagaimana diakuinya juga bahwa ada ajaran-ajaran agama yang sukar dipahami dengan akal namun tidak bertentangan dengan akal.

Penggunaan akal tanpa diiringi dengan keimanan pada agama dan kepercayaan pada keterbatasan akal akan membuat manusia mempertuhankan akal dan terjerumus dalam jurang kesalahan. Akal dapat berargumentasi tentang ada dan tiadanya Tuhan. Rasio dapat menggambarkan tuhan dalam berbagai corak, seperti pantheisme, politheisme, monotheisme, dua-theisme, tritheisme dan lain-lain. Padahal, Tuhan bukanlah obyek pengenalan seperti benda-benda lain. Satu-satunya yang dapat mengerti Tuhan adalah Tuhan sendiri, manusia dapat mengenal Tuhan hanya melalui penjelasan Tuhan saja. Itulah satu-satunya sumber pengetahuan tentang Tuhan. Penjelasan Tuhan mengenai diri-Nya bukanlah wilayah rasio manusia. Manusia, meskipun berfikir tentang Tuhan dengan filsafat, pada akhirnya harus meyakini adanya Allah melalui firman-Nya. Masalah ini tidak cukup dengan ilmu, akal dan bukti, tapi harus dengan kepercayaan.

Peranan Akal Dalam Memahami Alam
Al-Qur’an mengajak akal manusia untuk bertafakkur (memikirkan) dan bertadzakkur (mengingat) akan ciptaan Allah. Dengan adanya akal dan ilmu yang dimilikinya, manusia dapat dibedakan atas golongan yang berilmu dan golongan yang bodoh.

Melalui kontemplasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an dapat diketahui adanya data penguat bagi manusia dalam memberlakukan pengetahuan inderawi, yaitu melalui tafakkur (pemikiran) dan tadabbur (perenungan). Hal yang perlu diingat adalah bahwa kata al-‘aql (sebagai kata dasar) tidak dijumpai dalam al-Qur’an al-karim sama sekali, melainkan kata darivasi atau bentuk jadian yang berupa kata kerjanya, semisal ya’qilu, na’qilu, ta’qiluna, ya’qiluna, aqillu yang mencapai sekitar 50 kata. Sedangkan beberapa kata yang menunjukkan aktivitas ‘aqliyyah dengan gambaran umum, semisal tafakkur (berpikir), tadabbur (merenung), ‘ilm (ilmu), nazhr (pandangan), idrak (persepsi), fikr (pikiran) dan tabashshur (pencermatan mendalam) maka jumlahnya banyak.

Di bawah ini contoh dari beberapa ayat yang meliputi materi akal dalam memahami fenomena alam.

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah (2) : 164),

Artinya : Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ra’d (13) : 3-4).

Al-Qur’an berulang-ulang menyebutkan langit dan bumi dan menegaskan bahwa semuanya tunduk mematuhi apa yang ditentukan oleh Allah masing-masing. Allah memberi bimbingan kepada manusia untuk meneliti dan memperhatikan proses kejadian alam semesta, terutama langit dan bumi.

Peranan Akal dalam Memahami Kehidupan Manusia
Al-Qur’an, pada dasarnya memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap akal yang dimiliki oleh manusia. Sebagaimana firman Allah Surat al-Baqarah, [2]: 164 :

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Sehingga rasionalisasi menjadi ukuran dan pembeda hakiki antara manusia dengan makhluk yang lain.

Akal merupakan prasyarat adanya manusia yang halala. Arti manusia belum dipandang sebagai layaknya manusia, jika belum sempurna akalnya. Oleh karena itu hukum (syariat) hanya diperuntukan bagai orang yang berakal. Hal ini penting karena akal merupakan kemampuan khas manusiawi, yang secara potensial dapat di dayagunakan untuk mendeskripsi, memikirkan fenomena-fenomena, melakukan penalaran dan akhirnya melakukan tindakan dengan mengambil keputusan. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa al-Qur’an, manusia adalah makhluk yang berpotensi untuk menguasai ilmu pengetahuan. Seperti dalam firman Alah Swt Surat Al-‘Alah [96]:5:

Artinya: Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Peranan Akal Dalam Memahami Hukum
Dalam perkembangan sejarah Islam, khususnya dalam bidang hukum terjadi pertentangan dikalangan para pendiri mazhab dalam hal porsi penggunaan akal dan wahyu dalam memahami dan menjabarkan ajaran Islam di bidang hukum.

Aliran pertama, adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal, aliran ini kemudian disebut ahl al-ra’yi (Rasional) Aliran kedua, adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami wahyu; dan aliran ini disebut Ahl al-Hadits (ortodoks). Aliran pertama berkembang di Kufah dan Irak; dan aliran kedua berkembang di Madinah. Masing-masing kedua aliran ini dipelopori oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

Pada saat al-Qur’an diturunkan Rasulullah Saw yang berperan sebagai Mubayyin (yang memberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan al-Qur’an khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya.

Peradaban penggunaan akal baru muncul tatkala ijtihad dilakukan dalam keadaan tidak ada wahyu mengatur secara jelas permasalahan yang sedang dihadapi. Atau hadits ahad yang kandungannya bertentangan dengan akal, apakah hadits itu yang dipakai atau pendapat akal yang didahulukan.

Namun demikian, kedua aliran ini tetap menganggap Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai sumber utama hukum Islam.

Namun demikian, kedua aliran ini tetap menganggap al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber utama hukum Islam.

Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, penggunaan akal dan wahyu bagi mazhab-mazhab yang ada berbeda intensitasnya. Ali yafi melukiskan sebagai lingkaran-lingkaran:
1. Lingkaran yang paling dalam merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan akalnya. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum, tidak memperkenankan penggunaan akal. Kaedah mereka la ra’yu li al-din (akal tidak ada tempat dalam agama). Mazhab yang menggunakan kaidah ini disebut sebagai mazhab al-Zhahiri, karena diprakarsai oleh Daud al-Zhahiri yang dilanjutkan oleh Ibnu Hazm.
2. Merupakan mazhab yang mempergunakan akalnya agak lebih intens dari kelompok pertama. Mazhab ini disebut mazhab Hambali yang dipelopori oleh Imam Ahmad Ibn Hambal. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha’if harus diprioritaskan dari pada akal.
3. Merupakan mazhab yang mempergunakan akalnya lebih intens dari lingkaran kedua. Kelompok ini disebut mazhab Maliki yang dipelopori oleh Imam Malik. Doktrinnya menyatakan bahwa penggunaan akal harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Kaedah mereka adalah al-mashalihu al-Mursalah.
4. Merupakan mazhab yang menggunakan intensitas akalnya lebih besar dari yang sebelumnya. Aliran ini disebut mazhab Syafi’i yang dipelopori oleh Imam Syafi’i. Doktrin mereka dalam proses pengambilan hukum lebih banyak mempergunakan qiyas.
5. Merupakan mazhab yang paling intens dalam penggunaan akal dan frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. akal lebih diprioritskan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. Mazhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. Dinamika rasionalitas mencapai puncaknya pada masa pasca tabi’in yang dipelopori oleh Imam Hanafi yang bergelar Abu Hanifah. Kalangan Abu Hanifah (pengikut Imam hanafi), yang dikenal banyak mempergunakan akal dalam berijtihad, memberikan syarat-syarat yang cukup ketat untuk dapat menerima sebuah hadits ahad. Dan ketika hadits ahad tersebut bertentangan dengan akal, maka hadits ahad tersebut ditinggal.

Perkembangan penggunaan akal lebih lanjut, menunjuk relatif keluar pada batas-batas toleransi, tentu menurut ukuran aliran tradisional, yang agaknya kembali mulai berani. Ini misalnya dapat dilihat dari pendapat Abu yusuf salah seorang murid Hanafiah mengatakan, “Suatu nash yan dulu dasarnya adat, kemudian adat itu telah berubah, maka gugur pula ketentuan hukum yang terdapat dalam nash tersebut. Atau pendapat Najam al-Din al-Thufi, ahli hukum terkenal bermazhab Hanafiah, mengatakan. “bahwa apabila terjadi tabrakan antara kepentingan umum dengan nash dan ijma’, maka wajib didahulukan atau dimenangkan kepentingan umum. Namun, kedua tokoh tidaklah mencerminkan refresentasi pemikir hukum Islam pada masanya.

Berangkat dari kenyataan di atas, Sayid Amier Ali menyimpulkan, bahwa Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad tidak sedikitpun mengandung suatu yang dapat merintangi kemajuan dan menghambat perkembangan intelektualitas manusia. Lalu apa sebabnya, sejak abad kedua belas masehi, pemikiran rasional dan liberal (filsafat) hampir-hampir lenyap dan akhirnya faham jabariyah dan anti rasionalisme yang berkembang di dunia Islam?

Sebagaimana telah disinggung, bahwa hadits-hadits tentang akal itu banyak ditolak oleh sebagian ulama atau sekurang-kurangnya diragukan keabsahannya, paling tidak penyebab utamanya adalah kaum mu’tazilah sendiri, yang di awal sejarah perkembangan pemikiran Islam disebut-sebut sebagai pelopor penggunaan akal. Sebab dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata Mu’tazilah tidak luput dari lembaran hitam sejarah yang memalukan dunia pemikiran bebas. Menurut Nurcholis Madjid, ketika kaum Mu’tazilah mendapat angin oleh rezim Abbasyiyah di Baghdad, karena ajaran mereka diangkat menjadi aturan resmi negara, yaitu di masa kekhalifahan al-Makmun, mereka melancarkan apa yang dikenal dengan mihna.

Ketika Mutawakkil naik menjadi khalifah situasi politik berbalik secara total. Ulama dari kalangan ahli hadits, hukum, dan para qadi yang selama ini tidak mendapat tempat dan bahkan termasuk mendapat siksa akibat proses mihnah, misalnya termasuk Imam Ahmad bin Hambal maka pada masa khalifat Mutawakkil mendapat tempat strategis. Sehingga akibatnya, kaum rasionalis dan liberal tersingkir dari pusat kekuasaan dan bahkan diusir dari baghdad. Tidak hanya itu, menurut Sayed Amier Ali, pengajaran filsafat dan ilmu pengetahuan rasional di larang dan beberapa perguruan tinggi ditutup. bahkan buku-buku filsafat yang telah dihasilkan dibakar dan pengarangnya dibunuh.

Dalam pada itu, Abu Hasan al-Asy’ari tampil dengan membawa aliran teologi baru, teologi yang menentang kebebasan manusia. Pada akhirnya aliran teologi inilah yang berkuasa dan menjadi anutan resmi mayoritas ummat Islam.

Dalam perkembangan sejarah lebih lanjut, persengketaan antara kaum ortodoks dan kaum rasionalis, akhirnya secara formal dimenangkan oleh kaum ortodoks. Sekurang-kurangnya, secara lahir mereka mendominasi pemikiran keagamaan. Oleh Nurcholish Madjid diungkapkan, bahwa dalam banyak hal terjadi sikap-sikap tidak adil kepada kitab suci. Jika kaum ortodoks berhasil membendung rasionalitas dengan menaruh curiga yang berlebihan kepada hadits-hadits tentang akal, mereka tidak berbuat apa-apa terhadap ayat-ayat suci yang dengan tegas sekali mendorong manusia untuk menggunakan akalnya.

Pada akhirnya, hanya dengan penggunaan akal yang baik lebih professional dapat di bangun optimisme dan melenyapkan obskurantisme (kemasabodohan Intelektual) yang melanda umat islam sejak beberapa abad terakhir ini dapat diatas. Dan dengan itu pula harapan bahwa ummat Islan akan mampu menerobos stagnasi dan kebakuan intelektual; dan tampil lagi memimpin umat manusia dengan inisiatif dan kreatifitas peradaban yang bermanfaat bagi manusia sejagat. (Fathurrahman Jamil)

loading...

Loading...

Bacaan Terkait: