loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Plus Minus Pengaruh Facebook

Kategori Dunia: Internet & Web
Loading...

Pengaruh Facebook – Pada artikel terdahulu tentang Pengaruh Internet dunia baca telah membahas berbagai pengaruh internet serta dampak positif, negative dan juga manfaat dari internet itu sendiri. Sebenarnya kalo kita berbicara “Pengaruh” maka semua hal yang ada di sekeliling kita mempunyai pengaruh serta dampak positif dan negatifnya, dan itu semua kembali pada pemanfaatan bagi penggunanya, begitu juga dengan pengaruh facebook. Jangankan facebook, kita ambil contoh kecil yaitu “Flashdisk”. Flashdisk seperti yang kita ketahui seharusberfungsi untuk menyimpan data, file dan tentunya semua data tersebut adalah data-data yang positif. Namun pada kenyataannya, banyak orang yang menyalahgunakan flashdisk untuk menyimpan film-film 3gp Unyil. Melihat fakta tersebut, flashdisk juga mempunyai pengaruh dan dampak positif dan negative. Terlebih flashdisk yang disalah gunakan dengan diisi film-film 3gp unyil yang secara praktis bisa dibawa kemana-kemana dan tanpa disadari, saat melakukan ibadah (shalat) ternyata flashdisk tersebut ada pada kantong baju kita? Bagaimana ini? 😀 😀 😀

Lebih lanjut membahas tentang pengaruh facebook, berikut ini duniabaca.com kutip dari ceramah agama Damai Indonesiaku TV One seputar facebook dan fatwa MUI tentang Facebook Haram, yang disampaikan oleh Ust. Soleh Machmoed (Solmed) dan Prof. Arief Rahman.

Teknologi pada dasarnya produk budaya, teknologi, islam itu sangat mendukung sebuah kemajuan teknologi dan islam tidak mau kita menjadi orang yang tidak mengerti tekologi alias GapTek (Gagap Teknologi). Soal Facebook, Twitter, Internet ini adalah sesuatu yang merupakan keniscayaan dan kemudian realita yang ada di tengah-tengah kita sebagai bentuk kemajuan sebuah teknologi. Bagaimana Hukumnya? Facebook, internet, twitter itu adalah sesuatu yang netral. Ibarat pisau (benda netral), kalau yang menggunakan tukang nasi goreng dia gunakan untuk memotong bawang, motong sledri, motong ayam kemudian digoreng dan jadilah nasi gorong ayam yang lezat, tapi kalau pisau itu digunakan oleh seorang perampok, seorang penjahat, penodong maka pisau itu berguna untuk melukai orang lain. Begitu juga facebook, internet, twitter dan produk-produk teknologi lainnya tergantung kepada siapa yang menggunakan produk itu.

Contoh; saya punya facebook, insya Allah hampir setiap hari saya gunakan untuk sharing tentang ilmu, kita disana bisa berdiskusi tentang ilmu agama, bisa sharing tentang hadits dan al-qur’an. Begitu juga Damai Indonesia sudah kurang lebih 8 ribu anggotanya, ini merupakan satu pemanfaatan teknologi dengan baik. Tapi kadang-kadang ada juga yang memanfaatkan facebook untuk curhat “walau kau putuskan aku, namun hati ini akan selalu mencintaimu selamanya nya nya nya ….” ujung-ujungnya buka aib sendiri, dan akhirnya banyak masuk koment dan timbul membicarakan orang lain, tanpa sadar dia bongkar aibnya sendiri. Padahal sesuatu yang sudah ditutupi oleh Allah haram untuk kita buka, tidak boleh menjadi konsumsi public, tapi karena keasyikan saking nikmatnya tanpa dia sadari ternyata dia sedang membuka aibnya sendiri “Naudzubillah min dhaalik”.

Saat ini facebook banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ini untuk dijadikan perhatian bagi kaum ibu-ibu dan orang tua, hati-hati liat anak, sekarang di Hp bisa menggunakan facebook. Pernah ada kejadian seorang siswi diajak ketemuan lewat facebook yang akhirnya diperkosa oleh temen itu sendiri, belum lagi ada orang yang menjual bisnis barang terlarang, belum lagi ada yang mempromosikan dirinya. Facebook, internet, twitter itu produk akal, maka harus ada remnya yaitu Iman. (Ust. Solmed; Damai Indonesiaku, TV One)

Fatwa MUI tentang FACEBOOK HARAM

Prof. Arief Rahman – Ada 4 (empat) hal yang harus dilakukan. Yang pertama; kita tidak boleh ketinggalan zaman, kita harus kuasai teknologi itu secanggih-canggihnya. Yang kedua; kita harus tahu bahwa teknologi itu seperti yang disampaikan Ust. Solmed (sifatnya netral) seperti jarum suntik, kalau yang dimasukkan vitamin sehat, tapi kalo yang dimasukkan itu racun maka mati dia. Jadi, teknologi harus dipakai untuk hal-hal yang manfaat, untuk manusia, manfaat untuk alam semesta. Yang ketiga; ini sangat penting yaitu harus ada pengawasan tentang pemakaian teknologi ini. Seperti internet, facebook, website, handphone itu harus ada pengawasan, pengawasan nomor satu yaitu dirumah, nomor dua di sekolah, nomor tiga di masyarakat dan yang paling penting pengawasan ini harus dituangkan dalam perundang-undangan, di dalam peraturan supaya peraturan inilah yang dijadikan pegangan kita. Jangan tiba-tiba Facebook haram. Bukan teknologi yang haram akan tetapi apa yang dimasukkan dan dipakai untuk apanya itu yang haram. Yang keempat; tentu kecuali peraturan dan perundang-undangan, kita harus mempunyai system pengawasan.

Saya pikir kalau yang 4 (empat) ini dipegang dengan baik, maka kita tidak akan anti teknologi. Indonesia justru harus maju teknologinya tetapi teknologi yang dipakai untuk manfaat manusia dan kebaikan kehidupan lalu harus ada peraturannya dan manusia harus mengawasi dengan sebaik-baiknya, orang tua, guru dan masyarakat.

Kepada teknologi kita tidak boleh ketinggalan zaman. Jadi, apakah itu namanya facebook, internet, website, handphone kita harus kuasai hanya yang menjadi masalah alat-alat ini dipakai untuk apa? Kalau dipakai untuk hal-hal yang baik, saya punya cerita; melalui facebook saya punya teman yang jatuh cinta kepada agama Islam. Jadi kita harus bisa menggunakan semua alat yang dikatakan tadi oleh pak ustad bahwa itu netral. Netral itu tergantung bagaimana dan untuk apa memakainya.

Jadi, saya menganjurkan, kita harus maju teknologi itu yang pertama. Kedua, kita harus mengajarkan kepada anak-anak kita supaya anak-anak kita bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Saringannya apa? Nomor satu adalah agama dan yang memberikan ini adalah orang tua, karena keluarga adalah benteng pertama. Nomor dua, disekolah juga diberi pendidikan agama, tetapi juga diberikan pengetahuan, pengetahuan ini nanti yang akan bisa membedakan mana yang halal, mana yang toyib. Cabe halal tidak? “halal”, Makan cabe sekarung toyib tidak? “tidak”.

Pengetahuan itu sangat penting, harus ada filternya. Filternya nomor satu adalah agama, kedua adalah pengetahuan dan yang ketiga, namanya anak remaja lebih banyak curhat sama temannya dari pada orang tua, maka dari itu harus mencari teman yang baik. Rasulullah menganjurkan supaya berteman itu jangan sampai salah pilih, sebab teman ini yang mempengaruhi.

Tetapi pemerintah perlu punya undang-undang, pemerintah perlu punya peraturan, sekolah perlu punya aturan, Insya Allah dengan pengawasan ini, namanya orang bergerak dan menjadi matang kan sekali-kali salah harus ditolerir.

Seperti yang saya sampaikan, pendidikan agama dirumah, disekolah itu harus kuat, sebab nanti dia akan bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan haram, Insya Allah itu akan terjaga. Tetapi kalau ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah dewasa dan tua-tua maka harus ada undang-undangnya. Undang-undang itu harus bisa menjaring pemakaian, penyalahgunaan teknologi ini harus di jarring dengan peraturan-peraturan. Ada ungkapan seperti ini “Ilmu tanpa agama buta” jadi teknologi tanpa moral itu akan buta, nanti salah jalannya tapi “Agama saja tanpa ilmu itu lumpuh” kita tidak bisa berkembang, sampai-sampai kita disuruh mencari ilmu sampai kenegeri cina.

Saya pikir didalam pembangunan bangsa ini teknologi jangan dimusuhi, justru kita harus akrab tetapi pembangunan itu harus dasarnya nomor satu adalah moral. Ketuhanan Yang Maha Esa itu jangan diubah menjadi Keuangan yang maha kuasa, itu nanti yang hancur. Jadi kita harus bisa memilih dan memilah mana yang halal dan haram. Saya setuju dengan mengharamkan penyalahgunaan facebook. Bukan facebooknya yang diharamkan.

Ada tiga hal yang harus kita tanamkan pada anak-anak kita. Yang pertama; harga dirinya sebagai hamba Allah supaya anak-anak ini menjadi anak yang bertaqwa. Kedua; toleransi kepada pluralism / perbedaan-perbedaan suku, agama, ras, kebiasaan dan kita sudah mempunyai pegangannya “Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku” jadi kita harus yakin kepada agama kita dan kita tidak boleh menghina agama lain. Ketiga; kembangkan jiwa solidarisme, jiwa kebersamaan kita.

loading...

Loading...

Bacaan Terkait: