loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Referensi Skripsi Matematika

Kategori Dunia: Referensi Skripsi
Loading...

Skripsi Matematika ini berjudul “Meningkatkan hasil belajar siswa Sub pokok bahasan operasi bilangan pecahan dengan menggunakan kartu pecahan”. Skripsi yang diajukan dalam rangka penyelesaian studi strata 1 guna memperoleh gerlar sarjana pendidikan ini disusun oleh mahasiswa UNNES Program studi pendidikan Matematika, jurusan Matematika.

Teori-teori Belajar Matematika
Berikut ini diuraikan beberapa teori belajar Matematika sebagai berikut :

a. Teori Bruner
Belajar matematika menurut Bruner merupakan suatu proses belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi pelajaran dan mencari hubungan-hubungan tentang konsep dan struktur-struktur matematika. Bruner melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental.

  • Enaktif, yaitu anak-anak di dalam belajarnya menggunakan manipulasi obyek-obyek secara langsung.
  • Ikonik, yaitu kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek. Pada tahap ini anak tidak memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek.
  • Simbolik, yaitu tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak ada lagi kaitannya dengan obyek-obyek (Ratna Wilis Dahar, 1986 : 124)

b. Teori Dienes
Teori Dienes dikembangkan berdasarkan teori perkembangan intelektual dari Jean Piaget. Dienes memandang matematika sebagai struktur, pengklarifikasian struktur. Memisahkan hubungan-hubungan yang terdapat di dalam struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Dienes berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna, hanya disajikan pada anak dalam bentuk-bentuk konkret, jadi abstraksi didasarkan pada intuisi dan pengalaman-pengalaman konkrit.

c. Teori Ausubel
D.P. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dapat dikatakan menjadi bermakna jika informasi yang akan dipelajari oleh anak disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki anak, sehingga anak dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

Berikut ini tiga kemungkinan tipe belajar menurut Ausubel :
1) Belajar dengan penemuan bermakna
2) Belajar dengan ceramah bermakna
3) Belajar penemuan yang tidak bermakna, belajar dengan ceramah yang tidak bermakna (Ratna Wilis Dahar, 1988: 134)

d. Teori Thorndike
Belajar harus dengan pengaitan artinya pengaitan antara pelajaran yang sebelumnya dan yang akan dipelajari anak, karena semakin besar kaitannya semakin baik anak belajar. Thorndike menekankan pada cara stimulus respon berupa hadiah dengan nilai baik.

e. Teori Dewey
Dewey mengutamakan pada pengertian dan belajar bermakna artinya anak didik yang belum siap jangan dipaksa belajar. Guru dan orang tua sebaiknya menunggu sampai anak anak didik siap belajar atau guru dapat mengubah dan mengatur suasana belajar sehingga anak siap untuk belajar.

f. Teori Jean Piaget
Teori Jean Piaget juga teori kognitif, teori intelektual atau teori belajar. Disebut teori belajar kognitif karena berkenaan dengan kesiapan anak untuk mampu belajar dan disesuaikan dengan tahaptahap perkembangan anak. Karena menurut Piaget belajar harus juga merupakan sesuatu yang keluar dari dalam diri anak, meningkatkan perkembangan mental anak ke tahap yang lebih tinggi, dapat dilakukan dengan memperkaya pangalaman anak terutama pengalaman konkrit karena dasar perkembangan mental adalah melalui pengalaman-pengalaman aktif dengan menggunakan bendabenda sekitarnya. Di samping itu perkembangan bahasa anak merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan kognitifnya. Sedangkan dalam Ratna Wilis Dahar (1988: 183 – 186) Jean Piaget membagi perkembangan kognitif anak dalam empat tahap yaitu:

1. Tahap Sensorimotor/ instinktif : (umur 0 – 2 tahun)
Pada tahap ini aktivitas kognitif anak didasarkan atas pengalaman langsung melalui panca indera.

2. Tanpa Pra Oprasional/ intuitif (umur 2 – 7 tahun)
Pada tahap ini anak mulai memanipulasi simbol dan benda-benda di sekitarnya. Anak sudah siap untuk belajar bahasa, membaca dan menyanyi.

3. Tahap oprasi konkret (umur 7 – 11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah memahami hubungan fungsional, cara berfikirnya konkret belum menangkap yang abstrak. Tahap ini sangat penting karena anak sudah mulai menggeneralisasikan obyek-obyek yang diamatinya. Hal tersebut erat hubungannya dengan matematika. Konsep matematika yang didasarkan pada benda-benda konkret lebih
mudah dipahami dari pada memanipulasi istilah-istilah abstrak.

4. Tahap operasi formal (11 tahun ke atas)
Pada tahap ini adalah tahap tertinggi dari perkembangan kognitif anak. Anak usia 11 – 12 tahun belum mencapai tahap ini. Tahap ini disebut juga tahap hipotesis deduktif. Anak-anak pada tahap ini memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol-simbol atau ide dari pada obyek-obyek yang berkaitan dengan benda-benda di dalam cara berpikirnya.

Mengacu dari beberapa teori belajar tersebut di atas, maka dalam penelitian ini teori belajar matematika yang dipakai adalah teori belajar dari Piaget, khususnya tahap operasi konkret. Hal ini dikarenakan pada tahap tersebut siswa lebih memahami sesuatu materi secara konkrit dari pada hal-hal yang bersifat abstrak.

Secara sederhana dapatlah dicontohkan dalam hal memahami konsep operasi hitung pecahan, siswa akan lebih memahami soal apabila materi yang diberikan berhubungan dengan sesuatu yang konkrit. Namun apabila soal yang diberikan berhubungan dengan sesuatu yang abstrak, sudah barang tentu siswa akan kesulitan untuk menyelesaikan soal tersebut.

Dengan menguasai teori belajar operasi konkrit dari Piaget, siswa akan dapat mengikuti pelajaran dengan baik bahkan gurupun dapat memotivasi anak didik sehingga anak didik berminat belajar matematika. Teori belajar mengajar matematika yang dikuasai para pendidik dapat memilih strategi belajar mengajar yang tepat, mengetahui tujuan pendidikan, pengajaran atau pendekatan yang diharapkan serta dapat melihat apakah peserta didik sudah mempunyai kesiapan atau kemampuan belajar atau belum. Dengan mengetahui kesiapan siswa dalam belajar matematika maka pelajaran yang akan disampaikan dapat disesuaikan dengan kemampuan anak didik.

Download Referensi Skripsi ; Meningkatkan hasil belajar siswa Sub pokok bahasan operasi bilangan pecahan dengan menggunakan kartu pecahan

loading...

Loading...

Bacaan Terkait: