loading...
loading...
Dunia Baca dot Com

bukan sekedar Baca untuk membuka jendela Dunia

Menu

Referensi Tesis; Konsep Jual Beli

Kategori Dunia: Referensi Tesis
Loading...

Tesis tentang Konsep Jual Beli – Referensi Tesis ini berjudul Jual Beli Kontak dan Tidak Kontan (Analisis Pandangan Ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah) terdiri dari 4 bab. Pada Bab I seperti layaknya karya ilmiah, yaitu membahas latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode dan teknik pembahasan serta sistematika penulisan. Pada Bab II dijelaskan secara lebih rinci tentang ijtihad dan fiqih. Selanjutnya untuk Bab III membasah tentang jual beli dalam pandangan madzhab hanafi, maliki, syafi’i serta madzhab hambali. Diantaranya :

1. Pengertian Jual Beli atau dalam bahasa arabnya al-Bai’u
Al-Bai’u secara etimologi berarti al-Syira’ (Bahasa Arab) dua kalimat tersebut mempunyai dua arti yang berlawanan, yaitu, menjual atau membeli. Adapun jual beli ) al-Bai’u( secara terminologi ulama fikih sebagai berikut:

Wahbah al-Zuhail? mencantumkan pengertian (al- Bai’u) dengan “Tukar menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka”. Ulama mazhab Hanafi mendefinisikan jual beli “Saling menukar sesuatu yang sama-sama disenangi”. Penulis Syarh Fath al-Qad?r mendefinisikan: Jual beli adalah, tukar menukar harta dengan harta atas dasar saling merelakan.

Mazhab Maliki merumuskan jual beli dengan dua pengertian, yakni pengertian umum dan pengertian khusus. Pengertian umum maksudnya, meliputi semua macam transaksi tukar-menukar yang tidak terbatas dalam fasilitas. Sementara itu ulama mazhab Syafi’i memberi rumusan : “Jual beli adalah, tukar menukar harta dengan harta menurut cara yang khusus”.

Ibn Qudãmah dari mazhab Hanbali memberi pengertian jual beli Saling menukar harta untuk meimiliki dan dimiliki. Dari beberapa rumusan atau definisi ulama fikih di atas dapatlah disimpulkan bahwa jual beli menurut pengertian mereka adalah, tindakan tukar menukar sesuatu dengan sesuatu dengan cara-cara tertentu yang bertujuan untuk pemilikan, dan dilakukan tanpa ada paksaan.

2. Landasan Hukum Jual Beli
Al-Qur’an
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang digunakan oleh ulama sebagai dasar hukum dibenarkannya praktek jual beli. Antara lain Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling makan harta antara kamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang kamu saling suka sama suka. (Q.S. al-Nisa’ 29)

Yang demikian itu karena mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Tetapi Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. al-Baqarah: 275 )

Al-Sunnah
Ada beberapa Sunnah qauliyah dan fi’liyah yang digunakan ulama untuk melegimitasi dibolehkannya jual beli, antara lain:

Dari Jumai’bin ‘umair, dari pamannya ra. ia berkata: Nabi SAW pernah ditanya tentang sebaik-baik usaha mencari rizki. Beliau menjawab, jual beli yang mabrur dan hasil kerja tangan seseorang. (H.R. Ahmad )

Dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’bin Khadij dari kakeknya Rafi’ bin Khadij ra. ia berkata: “Rasulullah SAW pernah ditanya, Wahai Rasulullah usaha mencari rezki yang mana yang paling baik? Beliau menjawab, pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur”. (H.R. Ahmad).

Ijma’ Ulama
Hampir dapat dipastikan bahwa tidak seorang ahli fikihpun yang menentang dibenarkannya praktek jual beli. Hanya saja mereka berselisih dalam hal hal tertentu, termasuk syarat-syarat jual beli, sifat jual beli itu sendiri dan lain lain yang berkenaan dengan jual beli. Dalam hal ini tentu dapat dimaklumi, karena bukan hanya dalam masalah jual beli saja mereka berbeda pendapat, bahkan hampir dalam semua permasalahan hukum Islam perbedaan pendapat tersebut selalu ada.

Jual beli sudah biasa dilakukan oleh umat manusia secara turun temurun bahkan diberitakan bahwa banyak dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang mempunyai profesi sebagai pedagang, di antaranya, sahabat Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Abdurrahan dan lain-lain.

Jual beli yang dilakukan oleh kaum muslimin terutama para sahabat Nabi SAW setelah beliau meninggal dunia, kemudian jual beli diteruskan oleh generasi berikutnya, cukuplah sebagai bukti bahwa adanya ijma’ ulama dibenarkannya muamalah jual beli

3. Rukun Jual Beli
Menurut mazhab Hanafi jual beli itu tidak dapat terlaksana kecuali dengan adanya dua rukun yakni îjâb dan qabûl. Rukun jual beli bagi mereka adalah sesuatu yang menunjukkan adanya saling merelakan dalam tukar menukar suatu pemilikan, baik itu melalui ucapan atau perbuatan.

Ijab menurut mazhab Hanafi adalah perkataan atau perbuatan yang menunjukan adanya kerelaan yang diungkapkan sebagai penawaran oleh salah satu dari dua orang yang mengadakan kontrak (perjanjian), seperti seorang penjual berkata: “Aku menjual (barang ini)” atau seperti seorang pembeli mengatakan: “Aku membeli (barang tersebut).”

Qabûl adalah perkataan yang diungkapkan sebagai jawaban dari salah satu dari dua orang yang mengadakan kontrak, mungkin itu diungkapkan oleh penjual atau oleh pembeli.

Sedangkan menurut Jumhûr ulama, jual beli mempunyai 4(empat) rukun, yaitu penjual, pembeli, lafaz dan barang yang diakadkan.

Dan pada Bab V atau terakhir membahas tentang Riba dan Jual Beli yang meliputi :

1. Pengertian Riba
Kata riba termasuk kata yang patut dikategorikan kedalam masalah fikih yang rumit dan sarat dengan interpretasi yang beragam dari zaman ke zaman, bahkan sejak sepeninggalan Rasulullah SAW. Sebut saja Umar Ibn al-Khattab, Ibn Abbas seperti yang ditulis Ibn Kasir dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa ayat yang terakhir diturunkan oleh Allah adalah ayat riba, dan yang menarik dari ucapan Umar adalah, setelah turun ayat riba Rasulullah meninggal dunia dan belum sempat menjelaskan kepada para sahabat-sahabatnya. Teks ucapan Umar sebagai berikut:

(Sesunggunnya yang termasuk ayat al-Qur’an yang diturunkan belakangan adalah ayat riba. Dan sampai Rasulullah wafat, beliau belum menerangkannya kepada kami).

Oleh karenanya Umar berkata kepada umat saat itu:

“Tinggalkan yang meragukan dan kerjakan yang tidak meragukan”.

Dari contoh apa yang diucapkan oleh Umar di atas, kiranya wajar jika sampai saat ini sering dijumpai perbedaan pendapat dintara para ulama berkenaan dengan hukum riba.

2. Macam-Macam Riba
Menurut penulis Bidayah al- Mujtahid, para ulama telah sepakat bahwa riba dapat terjadi pada jual beli dan pada pinjam meminjam. Riba dalam pinjam meminjam yang disepakati keharamannya adalah yang disebut dengan riba jahiliyyah sebagaimana tersebut di atas yakni, memberikan pinjaman dengan mengambil tambahan melalui penundaan pembayaran. Adapun riba dalam jual beli ada dua macam yaitu riba al-fadl dan riba al-nasiah.

Download Referensi Tesis: Konsep Jual Beli

Note:
Mohon konfirmasinya lewat kolom komentar, jika terdapat link donwload yang eror

loading...

Loading...

Bacaan Terkait: