Sejarah Hari Ibu dan Hari Ayah di Dunia  | Dunia Baca dot Com

You are here:

Sejarah Hari Ibu dan Hari Ayah di Dunia

Capai Sukses  

Sejarah Hari Ibu, Hari Ayah – Peringatan hari ibu merupakan sesuatu kegiatan yang sudah tidak asing lagi, karena hampir di segala penjuru dunia telah memperingati hari ibu. Tapi lainnya halnya dengan hari ayah, yang dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga setiap bulan Juni, khususnya di indonesia perayaan hari ayah tidak begitu populer. Tanya Kenapa???

Pada bulan Mei (setiap tahunnya) tepatnya hari Minggu di pekan kedua, lebih dari 75 negara seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, semuanya merayakan/memperingati Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris). Sementara perayaan atau peringatan hari ibu di indonesia yaitu pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Hari ibu merupakan hari peringatan atau perayaan yang ditujukan kepada peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak maupun lingkungan sosial. Perayaan hari ibu biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Pesan Sponsor

Sejarah Hari Ibu di Indonesia
Sejarah Hari Ibu Dunia
Hari Ayah
Refferensi


Sejarah Hari Ibu Di Indonesia – [Kembali ke atas]


Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran[7] yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.[8] Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.


Sejarah Hari Ibu Dunia / Mother’s Day – [Kembali ke atas]


Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.

Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.


Hari Ayah – [Kembali ke atas]


Hari Ayah adalah hari untuk menghormati ayah. Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong dalam Hari Ayah atau Father’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni, dan dirayakan hampir di seluruh dunia yang dimulai pada awal abad ke-12. Biasanya Hari Ayah dirayakan dengan pemberian hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan. Hari Ayah diadakan untuk melengkapi Hari Ibu, hari untuk menghormati ibu. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Laki-laki Internasional atau International Men’s Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap bulan 19 November.

Di Indonesia sendiri Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November, dimana hal tersebut pernah dideklarasikan di Solo, meskipun perayaannya tidak begitu populer seperti Hari Ibu.


Refferensi - [Kembali ke atas]


id.wikipedia.org

Posted by         1 Response
   

Tidak ingin ketinggalan Informasi?

Setiap ada artikel baru, langsung di informasikan ke emal. Daftarkan E-mail Anda sekarang juga. GRATIS...!!!

*Agar tidak masuk spam, tambahkan e-mail eternyata [et] gmail [dot] com di address book email Anda.

 

One Comment to “Sejarah Hari Ibu dan Hari Ayah di Dunia”

  1. BUNDA says:

    SEJARAH HARI AYAH INDONESIA.
    Tahun 2004 paguyuban SATU HATI lintas agama & budaya di Solo namanya Putra Ibu Pertiwi mengadakan peringatan Hari Ibu. mereka mengadakan Sayembara Menulis Surat untuk IBU, dan 70 an surat terbaik mereka bukukan. Acara Itu sangat mengharukan, ada pembacaan surat-surat terbaik dari anak SD,SMP,SMA dan Mahasiswa serta Umum. Ada sungkeman anak-anak yatim piatu pada Ibu-Ibu dari Panti Jompo. Setelah acara selesai, para peserta sayembara serempak bertanya kepada panitia, “Kapan diadakan Sayembara Menulis Surat Untuk Ayah, Kapan Peringatan Hari Ayah? Kami pasti ikut lagi.” Pertanyaan yang polos dan penuh kerinduan dan harapan itu sangat menggugah hati panitia untuk mencaritau kapan Hari Ayah. Putra Ibu Pertiwi akhirnya mencari kesegala sumber, hingga audiensi ke DPRD kota Surakarta, menanyakan kapan hari ayah, dan kalau belum ada penetapan hari ayah, siapa / lembaga apakah yang berhak menetapkan sebuah hari yang akan dijadikan Hari Ayah? DPR pun tidak tahu dan tidak bisa memberikan jawaban. Akhirnya, tahun 2006 Putra Ibu Pertiwi merasa tidak berlebihan jika mereka membuat acara Deklarasi Hari Ayah untuk Indonesia. Setelah melalui diskusi dan kajian panjang, akhirnya mereka menetapkan Hari Ayah dideklarasikan tanggal 12 November, digabungkan dengan hari kesehatan dengan semboyan “SEMOGA BAPAK BIJAK, AYAH SEHAT, PAPAH JAYA” Deklarasi dilakukan di dua tempat pada jam dan hari yang sama yakni di Solo dan Maumere Flores NTT. Dalam deklarasi itu juga diluncurkan buku “Kenangan Untuk Ayah” yang berisi 100 surat anak Nusantara, yang diseleksi dari Sayembara Menulis Surat untuk Ayah. Berita Acara Deklarasi, Teks Deklarasi, dan Buku tersebut dikirim ke Bapak Presiden SBY dan ke 4 penjuru Indonesia. Jadi Hari Ayah tanggal 12 November, bukan dideklarasikan oleh para Ayah/Bapak, melainkan oleh anak-anak dan ibu-ibu (Putra-Putri Ibu Pertiwi) sebagai sebuah hari yang dipakain anak-anak untuk mengenangkan peran dan jasa ayahnya, termasuk para bapak bangsa Indonesia dari masa ke masa.
    Mari kita rayakan HARI AYAH KITA tiap tanggal 12 November sebagai Doa kita “Semaga Ayah Sehat, bijak, dan jaya….

Page 1 of 11
NOTE:
* Komentar yang menyertakan NOMOR HP, akan dihapus oleh Admin.

May
9
2011
 

Kategori Bacaan
online pharmacy viagra #@] order zithromax
online pharmacy generic levitra